Kraton Krisis Penari ?

Hasil data pemantauan media terhadap Tribun Jogja, Bernas Jogja, dan Merapi, dari tanggal 23 April – 29 April 2012, kali ini cenderung mengarah ke isu HAM dan Kriminal. Isu good governance untuk pekan ini tidak terlalu mendominasi, padahal biasanya good governance cukup menjadi isu yang paling dominan di antara isu lainnya.

Dikutip dari media koran Tribun Jogja dan Koran Merapi

Dikutip dari media koran Tribun Jogja dan Koran Merapi

Dalam sepekan kemarin, Kota Yogyakarta menjadi tuan rumah untuk event motor besar atau yang biasa di sebut Pekan Jambore Harley Davidson. Beberapa klub motor gede, biasa disingkat moge ini, banyak berdatangan ke Kota Yogyakarta untuk bersama meramaikan event yang biasa digelar sekali dalam setahun itu. Kedatangan mereka cukup memberikan penghasilan tambahan untuk beberapa pedagang di lingkungan tempat acara itu akan digelar, yaitu di gedung Jogja Expo Center. Namun tidak semua merasa senang dengan adanya event moge kali ini karena tidak sedikit dari si pengendara moge tersebut melakukan tindakan aksi tidak menyenangkan di jalanan Kota Yogyakarta. Aksi-aksi mereka, yang sering kali sedikit arogan, membuat para pengguna jalan lainnya merasa sangat terganggu. Akibat arogansi si pengendara moge tersebut, ada sedikitnya 3 pengguna jalan raya lainnya yang tertabrak moge hingga 1 tewas. Hingga laporan pemantauan ini ditulis, belum ada konfirmasi yang jelas mengenai info detail kejadian kecelakan tersebut di media lokal yang dipantau.

dikutip dari media koran Bernas Jogja dan Tribun Jogja

dikutip dari media koran Bernas Jogja dan Tribun Jogja

Info berita lainnya yang saya baca, saya menemukan kalimat yang membuat saya sedikit prihatin dengan budaya saat ini, kalimat tersebut, yaitu “Keraton Krisis Penari”. Kalimat tersebut cukup menarik perhatian saya dan beberapa pembaca lainnya karena yang saya tahu Kota Yogyakarta ini kaya akan budaya. Persoalan Keraton krisis penari ini, menurut saya, cukup menjadi tamparan untuk bangsa ini. Pasalnya, tari adalah kebudayaan asli Indonesia yang seharusnya menjadi kebudayaan yang harus dilestarikan dan juga diwarisi turun-mrnurun ke anak cucu nantinya. Pemberitaan ini mungkin juga menjadi sebuah kritikan kepada generasi penerus bangsa ini untuk supaya bisa memacu semangat kaum muda agar mau melestarikan budaya tari. Semoga para media-media lainnya bisa peka juga terhadap isu-isu lokal yang akhirnya bisa membuat masyarakat yang membaca sedikit jeli untuk memahami persoalan-persoalan yang sedang terjadi di sekeliling mereka.

Be Sociable, Share!

Tentang Penulis

Irvin Domi Setiawan biasa dipanggil Domi, tercatat sebagai mahasiswa tingkat akhir di Institut Seni Indonesia Yogyakarta. pemuda kelahiran 20 Maret ini, aktif di berbagai Komunitas yang ada di kota Yogyakarta, dan dia salah satu pendiri sekaligus Editor In Chief untuk Majalah Online www.areaxyz.com. sekarang ini dia juga berkontribusi dalam program pemantauan media berbasis komunitas sebagai pemantau perwakilan dari kota Yogyakarta.

Lihat semua tulisan

Tinggalkan Komentar

comm comm comm

www.akumassa.org adalah bagian dari program akumassa yang digagas oleh Forum Lenteng sebagai sebuah program pemberdayaan komunitas dengan berbagai media komunikasi, antara lain: video, teks, dan suara. akumassa memiliki strategi: penggerakan motivasi, memproduksi karya, pendokumentasian, berkelanjutan, pemberdayaan medium filem dan video, berbagi informasi serta merekam potensi lokal dengan cara berkolaborasi dengan komunitas dampingan.

akumassa:
Jl. Raya Lenteng Agung No.34 RT.007/RW.02
Lenteng Agung - Jakarta Selatan
DKI Jakarta 12610
Telp. (+6221) 78840373

www.akumassa.org // info@akumassa.org



© Agustus 2008 - 2012 ( akumassa )

// Forum Lenteng // Jurnal Footage // Dongeng Rangkas // Naga // Radio akumassa //