Wartawan Bikin Pede Geng Motor

Oleh / pada 17 April 2012 / di DKI Jakarta, Kriminal // Belum ada komentar

Geng Motor (Sumber, waspada.co.id)

Hasil pemantauan media lokal di Jakarta, yakni terhadap surat kabar Berita Kota dan Warta Kota, menghimpun 104 berita sejak tanggal 9 hingga 15 April 2012. Dari jumlah keseluruhan, terdiri dari 51,56% isu good governance, 26,56% isu kriminalitas, 7,03% isu HAM dan sisanya, 7,04% terdiri dari isu perempuan dan/atau anak dan isu lingkungan hidup.

Selama sepekan ini, kedua surat kabar lokal itu memberikan informasi  yang  cukup banyak tentang Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) DKI Jakarta 2012. Untuk saat ini, para calon gubernur (cagub) dan calon wakil gubernur (cawagub), yang akan maju pada pemilukada nanti, telah melewati tahap tes kesehatan. Penyajian yang diberikan cukup proporsional. Para cagub dan cawagub mendapat kesempatan yang sama dalam mengungkapkan pendapatnya. Begitu juga informasi dari Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) DKI Jakarta. Berita terkait kebijakan badan tersebut cukup lengkap untuk diketahui dari kedua media ini.

Selain itu, berita lanjutan sidang kasus suap wisma atlet dan suap cek pelayat juga masih mengisi halaman-halaman surat kabar ini.

Tentang isu kriminal, selama sepekan ini banyak diisi oleh berita tentang aksi geng motor yang meresahkan warga Jakarta. Namun sayang, kedua media tersebut justru memberitakan peristiwa ini dengan kata-kata yang berlebihan. Misalkan pada Senin, 9 April 2012, pada headline Warta Kota, berita diberi judul ‘Geng Motor Makin Ganas’ dan pada Sabtu, 14 April 2012, pada headline Warta Kota, berita diberi judul ‘Geng Motor Teror Jakarta’.

Mungkin benar jika dikatakan perilaku geng motor semakin ganas dan menjadi teror. Tapi, saya melihat kedua kata itu bisa diganti dengan kata-kata yang konotasinya lebih ramah. Saya khawatir, kedua kata itu bisa membuat anggota geng motor semakin percaya diri setelah membaca artikel ini. Begitu juga sebaliknya, saya khawatir warga Jakarta jadi enggan beraktifitas. Padahal, yang diperlukan, menurut saya, kedua media tersebut mendorong elit di Jakarta untuk mengamankan warga.

Secara keseluruhan, selama sepekan ini, kedua media tersebut telah memberikan informasi yang cukup lengkap. Namun, masih ada beberapa yang kurang, salah satunya tentang pemilihan kata-kata. Mungkin maksud redaksi ialah supaya berita-berita tersbeut memiliki daya tarik. Tapi sebaiknya juga perlu dipertimbangkan tentang makna kata yang dipilih.

Be Sociable, Share!

Tentang Penulis

Lulus Gita Samudra masih dalam studi tingkat akhir di Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jakarta. Pria kelahiran Jakarta tahun 1989 ini, juga turut aktif di Forum Lenteng sebagai Sekretaris Redaksi akumassa.org. Sebelumnya ia pernah mengikuti workshop akumassa Depok pada tahun 2011. Kini ia sedang membangun sebuah komunitas berbasis massa di Depok, bernama Suburbia.

Lihat semua tulisan

Tinggalkan Komentar

comm comm comm

www.akumassa.org adalah bagian dari program akumassa yang digagas oleh Forum Lenteng sebagai sebuah program pemberdayaan komunitas dengan berbagai media komunikasi, antara lain: video, teks, dan suara. akumassa memiliki strategi: penggerakan motivasi, memproduksi karya, pendokumentasian, berkelanjutan, pemberdayaan medium filem dan video, berbagi informasi serta merekam potensi lokal dengan cara berkolaborasi dengan komunitas dampingan.

akumassa:
Jl. Raya Lenteng Agung No.34 RT.007/RW.02
Lenteng Agung - Jakarta Selatan
DKI Jakarta 12610
Telp. (+6221) 78840373

www.akumassa.org // info@akumassa.org



© Agustus 2008 - 2012 ( akumassa )

// Forum Lenteng // Jurnal Footage // Dongeng Rangkas // Naga // Radio akumassa //