Kampanye Masih Diwarnai Kecurangan

Gambar diakses dari http://www.rnw.nl/bahasa-indonesia/article/aceh-di-gerbang-pilihan-krusial

Dari hasil pemantauan berita terhadap harian Serambi Indonesi dan Prohaba, edisi 2-8 April 2012, menunjukkan bahwa berita tentang kriminal mendominasi harian tersebut. Dari total 82 berita, 39 di antaranya adalah berita kriminal, kemudian disusul good governance 20 berita. Kejahatan yang cukup sering terjadi mewarnai kejahatan yang terjadi di kalangan tim sukses para kandidat calon kepala daerah dalam pemilihan kepala daerah (Pilkada) Aceh 2012.

Diantaranya, masih berupa pembakaran mobil tim sukses (timses), pelemparan batu, pengeroyokan terhadap tim sukses/massa pendukung pasangan calon tertentu, baik di tingkat gubernur, wali kota maupun bupati. Hal ini menunjukkan bahwa ikrar damai pilkada Aceh tak mengakar. Buktinya, pelanggaran masih terus terjadi.

MeskipunKomisi Independen Pemeilihan (KIP) dan  Panitia Pengawas (Panwas) sudah mengingatkan agar tidak membiarkan pelanggaran ini terjadi, namun sepertinya para pelanggar tidak mengindahkan imbauan tersebut. Seperti contoh kasus, ketika dua massa yang sedang berkampanye berpapasan, maka akan terjadi bentrok dan saling mnghujat sehingga tidak jarang terjadi adu jotos dan adu mulut.

Sangat disayangkan, sikap yang seperti ini menunjukkan ketidakdewasaan dalam berkampanye dan berpolitik. Untungnya ada beberapa kasus yang sudah masuk kedalam proses pidana polisi, walaupun ada beberapa yang masih dalam pemeriksaan polisi. Aksi yang tidak penting seperti intimidasi dan teror juga berlangsung. Pernah beberapa kali warga menyebutkan adanya paksaan untuk memilih kandidat tertentu atau jangan mendukung kandidat tertentu.

Namun hal ini, terkait kecurangan yang terjadi, tentu terkadang banyak yang luput dari pengawas pilkada, disebabkan ketidakberanian untuk melaporkan kepada Panwas. Padahal Panwas sudah mengingatkan untuk memberi informasi tentang hal-hal negatif yang terjadi di lapangan. Warga sedianya lebih memilih tutup mulut, karena ketakutan terhadap keselamatan jiwanya masing-masing.

Meskipun begitu, keputusan tetap berada di tangan rakyat, KIP Aceh mengimbau memilih sesuai dengan hati nurani. Melihat lagi visi dan misi calon kepala daerah secara seksama agar tidak menyesal untuk lima tahun ke depan.

Pemantau percaya bahwa, media lokal juga memiliki peran signifikan untuk melakukan pengawasan dan pemantauan terhadap berjalannya proses kampanye dan Pilkada di Aceh ini, guna memberi terang kepada masyarakat sehingga masyarakat dapat memilih calon pemimpin Aceh yang baik. Jika tidak, sungguh sangat disayangkan keberadaan koran lokal hanya sebagai pajangan.

Be Sociable, Share!

Tentang Penulis

Maina Sari, Lahir di Lambadeuk, Aceh Besar, 25 Agustus 1987. Lulusan Komunikasi Penyiaran Islam, Fakultas Dakwah Institut Agama Islam Negeri (IAIN Ar-Raniry) Banda Aceh. Sekarang Aktif di Radio Flamboyant FM Banda Aceh dan Akumassa.

Lihat semua tulisan

Tinggalkan Komentar

comm comm comm

www.akumassa.org adalah bagian dari program akumassa yang digagas oleh Forum Lenteng sebagai sebuah program pemberdayaan komunitas dengan berbagai media komunikasi, antara lain: video, teks, dan suara. akumassa memiliki strategi: penggerakan motivasi, memproduksi karya, pendokumentasian, berkelanjutan, pemberdayaan medium filem dan video, berbagi informasi serta merekam potensi lokal dengan cara berkolaborasi dengan komunitas dampingan.

akumassa:
Jl. Raya Lenteng Agung No.34 RT.007/RW.02
Lenteng Agung - Jakarta Selatan
DKI Jakarta 12610
Telp. (+6221) 78840373

www.akumassa.org // info@akumassa.org



© Agustus 2008 - 2012 ( akumassa )

// Forum Lenteng // Jurnal Footage // Dongeng Rangkas // Naga // Radio akumassa //