Media Cenderung Melabel dan Jadi Corong Pencitraan

Oleh / pada 26 Februari 2012 / di Depok, Jawa Barat, Perempuan dan - atau Anak // 3 Komentar

Potongan gambar dari Radar Depok dan Monitor Depok, edisi 20 Februari 2012

Hasil pemantauan terhadap tiga media lokal Depok (Radar Depok, Monitor Depok dan Jurnal Depok), dari tanggal 20 hingga 26 Februari 2012, memperlihatkan bahwa isu good governance masih menjadi isu yang paling banyak diangkat, yaitu sebanyak 70 artikel (42,168 %) berita dari jumlah total 166 berita. Menyusul setelahnya ialah berita dengan isu kriminalitas sebanyak 40 artikel (24,096%) berita dan isu lingkungan hidup sebanyak 36 artikel (21,686%) berita.

Isu good governance yang diangkat erat hubungannya dengan persoalan partai, terutama isu pengocokan ulang alat kelengkapan DPRD (konflik kepentingan antara partai Gerindra, PKS, Golkar dan Partai Demokrat). Selain itu, propaganda dari Pemkot Depok tentang kebijakan One Day No Rice juga masih terus bergulir, yang kelihatannya cenderung meng-iya-kan kebijakan tersebut. Isu kriminalitas masih berkutat pada perampokan, pencurian, dan penyimpangan di masyarakat Kota Depok. Minggu ini, ada 2 berita kriminal yang menghebohkan, yaitu tentang perdagangan manusia (bayi kembar) dan kasus penusukan oleh anak-anak terhadap anak-anak. Sementara itu, isu lingkungan hidup masih berkutat pada persoalan tentang kerusakan jalan dan penanggulangan sampah di berbagai daerah di Depok. Tidak ada satu pun artikel yang menyangkut HAM. Dapat disimpulkan bahwa media lokal Depok kurang menaruh perhatian pada isu ini.

Yang perlu mendapat perhatian ialah tentang kasus penusukan terhadap Saiful Munif oleh teman sekelasnya, berinisial MAN. Pada perkembangannya, kasus ini menjadi isu tentang anak. Memang, tiga koran lokal itu menyajikan berita yang memuat tentang perkembangan kasus, baik dari pihak korban dan pelaku, pandangan pakar yang langsung terlibat, dan dari pemangku kebijakan. Namun, sejak awal pemberitaannya, media cenderung telah memberikan label kepada MAN sebagai contoh anak nakal. Pada pemberitaan terakhir minggu lalu (25 Februari 2012, di tiga koran) kata ‘kejiwaan’ terlalu menonjol pada MAN, seolah menggambarkan dia mengalami gangguan kejiwaan. Padahal, pada pemberitaan sebelumnya (20 Februari 2012), dimuat pendapat Kak Seto, Ketua Komnas Perlindungan Anak, yang menyatakan ada faktor lingkungan yang mempengaruhi perkembangan psikologi MAN. Menurut saya, kata ‘psikis’ dan ‘kejiwaan’ tentu memiliki makna yang berbeda dalam penggunaannya. Meskipun kata ‘psikis’ dan ‘kejiwaan’ memiliki akar kata yang sama, namun bisa berbeda dalam penafsirannya di masyarakat kita. Dan wartawan (penulis berita) kurang memperhatikan ini. Terlebih lagi, pada artikel berita di Jurnal Depok (23 Februari 2012), terkesan jelas labelisasi terhadap MAN dengan mengatakan tindakannya sebagai ‘kriminalitas yang amat sadis’. Ada kekhawatiran bagi saya hal ini akan membentuk opini publik yang negatif terhadap MAN.

Tiga koran tersebut juga tidak konsisten dalam soal praduga tak bersalah. Setahu saya, sebelum pengadilan memutuskan, asas praduga tak bersalah masih berlaku. Namun demikian, sejak awal pemberitaan, sudah ada kecenderungan dari media untuk menetapkan MAN sebagai anak yang harus disalahkan (bahkan sudah tidak menggunakan nama samaran di beberapa artikel). Artikel dengan narasumber pakar yang terjun langsung menangani kasus terbilang minim dan tidak memuaskan. Selain itu, muncul juga kesan bahwa kasus ini menjadi corong propaganda pencitraan pemerintah. Radar Depok dan Monitor Depok justru menghadirkan berita tentang Pemkot Depok yang bersedia menanggung semua biaya rumah sakit si korban; hal ini mengundang kecurigaan saya terkait politik pencitraan Walikota Depok (Lihat berita tanggal 20 Februari 2012). Perkembangan tentang korban memang diperlukan, tetapi penjelasan tentang ‘si kasus’ yang merupakan seorang anak juga dibutuhkan agar tidak memberikan sesat pikir kepada masyarakat. Seharusnya media melakukan hal ini.

Dalam seminggu lalu, saya tidak menemukan penyimpangan pelaku media di lapangan. Sebagai kesimpulan, media lokal di Depok masih sering terjebak pada aksi pelabelan dalam memberitakan tentang isu kejahatan dan isu anak.

Be Sociable, Share!

Tentang Penulis

Manshur Zikri (21 tahun) adalah seorang mahasiswa Program Studi Kriminologi, FISIP, Universitas Indonesia. Saat ini dia menjadi salah seorang pemantau dalam Program Pemantauan Media Berbasis Komunitas, Forum Lenteng, untuk perwakilan lokasi Kota Depok. Selain aktif berkegiatan di Forum Lenteng, Zikri juga aktif dalam kegiatan jurnalisme warga bersama komunitas akumassa Depok, SUBURBIA, yang mengkaji persoalan sosial, budaya dan media di Kota Depok dan sekitarnya.

Lihat semua tulisan

3 Komentar pada "Media Cenderung Melabel dan Jadi Corong Pencitraan"

  1. Rani 27 Februari 2012 pukul 19:41 · Balas

    Jurnalisnya kagak belajar ilmu kriminologi kak (=w=)v
    Makanya pemberitaannya cenderung berubah2.
    Mengenai isu good governance, pada dasarnya media massa memang dipengaruhi oleh kelompok kepentingan tertentu #nyablak, baru bljar politik tadi hehehe..
    Pemberitaan di media massa tanpa pelabelan itu gimana yak?
    soalnya kebanyakan langsung melabel *iya ga sih?* #bingung.

  2. manshurzikri 28 Februari 2012 pukul 02:04 · Balas

    bukan masalah apakah jurnaslis belajar kriminologi/sosiologi atau tidak, tetapi seharusnya hal itu terbahas dalam kode etik jurnalistik; tentang bagaimana mengemas berita yang baik, sehat, berimbang dan bertanggung jawab.
    Mengenai pengaruh kelompok tertentu, oleh sebab itu lah dibutuhkan inisiatif dari warga masyarakat untuk memantau isi media dengan melakukan gerakan ‘membaca kritis dan skeptis’, sebagai usaha untuk memberikan masukan dan kritik kepada pelaku media. Akumassa dengan program pemantauan media berbasis komunitas (rekammedia) sedang melakukan hal ini.

    Dalam kajian ‘news-making criminology’, masalah tentang kecenderungan media melabel orang/figur memang menjadi kajian yang serius, terutama di pemeberitaan tentang kejahatan. Labelisasi itu menjadi salah satu efek buruk dari media di masyarakat kita. Namun, hal ini sesungguhnya dapat diantisipasi dengan pengemasan berita yang berimbang tersebut: penuh dengan sistem kerja yang mengedepankan asas praduga tak bersalah, verifikasi yang teliti, dan tidak menyimpang dari kode etik yang berlaku.

    • Rani 28 Februari 2012 pukul 19:40 · Balas

      Memang gerakan membaca kritis dan skeptis terhadap pemberitaan yang beredar merupakan hal yang baik. Tapi pada dasarnya masyarakat tidak mengetahui asal muasal dan benar tidaknya berita tersebut sehingga menelan berita mentah-mentah terutama bagi yang tidak mengikuti perkembangan dari berita tersebut (seperti saya). Ditambah lagi masyarakat hanya mau langsung cap “ini benar” dan “ini salah”. Mindset-nya memang harus dirubah sih.

Tinggalkan Komentar

comm comm comm

www.akumassa.org adalah bagian dari program akumassa yang digagas oleh Forum Lenteng sebagai sebuah program pemberdayaan komunitas dengan berbagai media komunikasi, antara lain: video, teks, dan suara. akumassa memiliki strategi: penggerakan motivasi, memproduksi karya, pendokumentasian, berkelanjutan, pemberdayaan medium filem dan video, berbagi informasi serta merekam potensi lokal dengan cara berkolaborasi dengan komunitas dampingan.

akumassa:
Jl. Raya Lenteng Agung No.34 RT.007/RW.02
Lenteng Agung - Jakarta Selatan
DKI Jakarta 12610
Telp. (+6221) 78840373

www.akumassa.org // info@akumassa.org



© Agustus 2008 - 2012 ( akumassa )

// Forum Lenteng // Jurnal Footage // Dongeng Rangkas // Naga // Radio akumassa //