Mars Kota Tangsel Memicu Polemik dan Berita Seputar Tata Ruang Kota

Pada pekan keempat bulan Juli 2012 dari amatan pemantau ada berita yang menarik diperhatikan. Beberapa berita diantara menyangkut seputar mars Kota Tangsel yang menuai polemik dan berita-berita yang menyangkut tata ruang kota di Kota Tangsel.  dalam sepakan ini menurut data yang pemantau catat ada sekitar 49 berita tentang good governance dari 63 jumlah total berita di dua media lokal. Dalam pada itu, pemantau akan membahas perihal mars Kota Tangsel yang berujung polemik kemudian pembahasan sajian berita tentang tata ruang kota.

Mars Tangsel DIkomplain. Courtesy: Harian Tangerang Ekspres

Mars Tangsel DIkomplain. Courtesy: Harian Tangerang Ekspres

Harian Tangerang Ekspres melalui rubrik Radar Tangsel menurunkan hot issue seputar polemic mars Kota Tangsel. diawali laporan pada edisi Selasa, 24 Juli 2012 yang bertajuk “Mars Tangsel Dikomplain, Diadukan ke DPRD, Tak Ikut Jadi Pemenang. Dalam rilis laporan ini harian Tangerang Ekspres melaporkan tentang mars Kota Tangsel yang baru saja di launching pada hari Kamis (19/7) diadukan ke DPRD Kota Tangsel. Pasalnya, mars tersebut dituding tidak ikut serta dalam lomba mars 2011 lalu, tapi yang jadi pemenang dan menjadi mars resmi Kota Tangsel adalah karya ciptaan Al Mansyur. Menurut Hermanyandana, Kepala SMPN 2 Kota Tangsel yang merupakan salah satu peserta lomba mars Kota Tangsel 2011, mengatakan dalam lomba yang dilaksanakan setahun lalu bahwa lagu ciptaan Al Mansyur tidak terlibat dalam lomba tersebut. Atas dasar itulah Hermanyandana mengadaukan masalah ini kepada DPRD Kota Tangsel. Namun dalam laporan Tangerang Ekspres ini, Al Mansyur juga membantah dan membuktikan bahwa lagu tersebut sesuai dengan mekanisme yang benar. Di edisi Rabu, 25 Juli 2012 Al Mansyur tak terima dengan tudingan miring itu. Ia berdalih, dalam lomba tahun lalu, justru dirinya yang paling aktif. Al Mansyur melanjutkan, pengaduan itu sangat tidak pantas lantaran pengaduannya tidak tepat sasaran. Seharusnya kata Al Mansyur  aduan tersebut disampaikan kepada Kantor Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tangsel melalui aduan lisan. Al Mansyur balik menuding bahwa SMP N 1 telah melakukan pencemaran nama baiknya karena telah menuding dirinya melanggar ketentuan, atau bermain curang dalam lomba Mars Kota Tangsel. Sementara, pihak SMPN 1 Kota Tangsel tetap tak bergeming bahwasanya Al Mansyur tidak pernah ikut lomba dan pasalnya pada saat lomba hanya terdapat 6 peserta lomba dan dari 6 peserta tersebut tidak ada Al Mansyur. Menyangkut polemik ini, pihak Budpar lepas tangan. Tangerang Ekspres memberitakan bahwa Kepala Kantor Budaya dan Kepariwisataan (Budpar) Eddy Wahyu lepas tangan soal polemik Mars Kota Tangsel. Ia berdalih saat lomba pemilihan lagu mars pada 2011 lalu, belum menjadi Budpar. Sementara penentuan pemenangnya tahun ini, dilakukan saat Eddy sudah menjabat. Buntut dari polemik ini, para guru mengancam akan demo soal mars Kota Tangsel ini. Pada laporan penutupnya Tangerang Ekspres menulis, melalui konfirmasi dari Siti Chadijah, anggota DPRD Kota Tangsel mengatakan untuk menyelesaikan permasalahan ini Komisi II DPRD Kota Tangsel memastikan segera memanggil Kepala Budpar.

Pada harian Tangsel Pos, hemat pemantau melihat pemberitaan berkisar pada ranah tata ruang kota dengan permasalahannya diantara komplain warga terhadap para pengembang perumahan menyangkut tata ruang perumahan yang bermasalah. Pengaduan warga tersebut dilayangkan kepada pihak Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI). Keluhan yang disampikan warga kepada YLKI menyangkut pelayanan yang tak memuaskan di bidang properti. Masalah-masalah yang menjadi keluhan diantaranya adalah pengelolaan lingkungan, drainase, serta sejumlah sarana dan prasarana lain. Pada edisi Selasa, 24 Juli 2012  harian Tangsel Pos merilis laporan tentang program penghijauan yang digulirkan oleh Pemkot dengan menanam ribuan pohon serta membuat sumur resepan yang menghabiskan anggaran sekitar Rp 1 Miliar. Dan pada edisi Jumat, 27 Juli 2012 harian Tangsel Pos menurunkan laporan seputar megaproyek Monorel yang menghubungkan Serpong hingga bandara Soekarno Hatta. Pembangunan infrasturktur transportasi ini menelan anggaran Rp 6,5 Triliun. Menurut Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Banten, Husni Hasan, mengatakan karena pembangunan monorel ini melibatkan dua wilayah yakni Kota Tangerang dan Kota Tangerang Selatan diharapkan seluruh pengembang perumahan bisa menyiapkan lahan yang akan dilintasi monorel. Pembangunan megaproyek ini melibatkan PT INKA dan tujuh pengembang perumahan serta Banten Global Development sebagai inisiator. Lanjutnya, hingga saat ini, pembangunan monorel Serpong-Bandara Soekarno-Hatta sudah memasuki tahap studi kelayakan dan ditargetkan rampung pada akhir 2012 ini. Rencana pembangunan monorel ini ditargetkan selesai tahun 2014 yang jalurnya mencapai 22 Km dengan lebar 10 meter, monorel ini akan melalui 14 shelter di dua wilayah, Kota Tangerang dan Kota Tangerang Selatan.

Disamping pemberitaan yang telah pemantau ulas diatas. Di kedua media juga memberitakan yang sedang mengemuka di pemberitaan nasional yakni krisis kedelai yang mengancam produksi pengrajin tahu-tempe di Kota Tangerang Selatan. Disamping itu, berita tentang sidak beberapa instansi di lingkungan Pemkot Kota Tangsel baik dari Disperindag, dan Dinsosnakertrans yang melakukan sidak ke sebuah pabrik untuk memastikan hak-hak buruh yang menyangkut UMK dan THR jelang hari raya nanti. Begitupun rilis angka pengangguran hingga pertengahan Juli 2012 yang mencapai 52 ribu orang di Kota Tangerang Selatan yang didominasi oleh lulusan SMA. Tingginya jumlah pengangguran ini amat memprihatinkan dan untuk mengatasi masalah ini Dinsosnakertrans Kota Tangsel membekali lulusan SMA dengan berbagai keahlian seperti komputer dan mengundang sejumlah perusahaan untuk dapat langsung mengikuti pelatihan sekaligus melakukan seleksi dan rekruitmen.

Apa yang tersajikan diatas pemantau berpendapat berita-berita tersebut layak diinformasikan kepada khalayak yang menyangkut persoalan-persoalan tentang tata ruang kota, begitupun polemik mars Kota Tangsel, media harus mengawalnya apakah ada skandal dalam pemilihan lagu mars yang dimenangkan oleh Al Mansyur tersebut. duduk persoalannya harus dapat ditelisik sejelas mungkin kepada masyarakat karena ini menyangkut tata kelola pemerintahan yang bersih dan transparan. Kalau skandal maras tersebut terbukti ini sangat kontraproduktif dengan platform reformasi birokrasi di mana prasyaratnya adalah transparansi dan akuntabilitas. Pemantau akan melihat kasus ini pada pekan mendatang. Tabik [rrk]

Be Sociable, Share!

Tentang Penulis

Renal Rinoza lahir di Jakarta, 8 Maret 1984. Tahun 2004 kuliah di Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta dan lulus tahun 2010. Tahun 2007 sempat kuliah di Program E.C Ilmu Filsafat Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta. Sehari-hari bergiat Komunitas Djuanda dan aktif menulis di Jurnal Footage, akumassa.org, dan Program Pemantauan Media akumassa.org.

Lihat semua tulisan

Tinggalkan Komentar

comm comm comm

www.akumassa.org adalah bagian dari program akumassa yang digagas oleh Forum Lenteng sebagai sebuah program pemberdayaan komunitas dengan berbagai media komunikasi, antara lain: video, teks, dan suara. akumassa memiliki strategi: penggerakan motivasi, memproduksi karya, pendokumentasian, berkelanjutan, pemberdayaan medium filem dan video, berbagi informasi serta merekam potensi lokal dengan cara berkolaborasi dengan komunitas dampingan.

akumassa:
Jl. Raya Lenteng Agung No.34 RT.007/RW.02
Lenteng Agung - Jakarta Selatan
DKI Jakarta 12610
Telp. (+6221) 78840373

www.akumassa.org // info@akumassa.org



© Agustus 2008 - 2012 ( akumassa )

// Forum Lenteng // Jurnal Footage // Dongeng Rangkas // Naga // Radio akumassa //