Jumhani, Korban Salah Tangkap

 

Data yang berhasil diperoleh selama seminggu pemantauan terhadap media Baraya Raya dan Kabar Banten (11 – 17 Juni 2012), isu good governance masih menjadi pemberitaan yang paling banyak di beritakan dengan 59,836% dari 122 total berita. Sedangkan untuk isu kriminalitas adalah 12,295% dan isu lingkungan hidup adalah 20,491%. Sementara untuk isu HAM dan perempuan dan/atau anak yakni 4,918% dan 2,459%.

Minggu lalu, 11 hingga 17 Juni 2011, ragam penyajian pemberitaan nampak mengiasi headline media Kabar Banten dan Banten Raya. Mulai dari pemberitaan seputar korupsi, criminal hingga pelanggaran HAM. Dari sekian banyak pemberitaan, ada satu berita yang menjadi focus media yaitu tentang seorang laki-laki penjual gorengan yang menjadi korban salah tangkap polisi.

Dikutip dari media Banten Raya

Dalam media Kabar Banten edisi 11 Juni 2012, “Korban Salah Tangkap Segera Lapor Polda”, dalam artikel tersebut Jumhani (35), seorang penjual gorengan, warga Juhut Desa Padasuka, Kecamatan Maja, Kabupaten Lebak adalah yang menjadi korban salah tangkap oknum aparat di Polres Serang. Jumhani menuturkan “Saat itu, saya lagi naik kereta api (KA) hendak pulang ke kampung sehabis jualan gorengan di Cilegon. Namun, saat di atas KA tepatnya di Stasiun KA Serang, tiba-tiba ada beberapa petrugas langsung menangkap dan menyeret paksa saya keluar dari KA. Lalu dimasukan ke dalam mobil yang sudah disiapkan sambil mengancam dan menyiksa saya,” ungkapnya. Di dalam mobil, Jumhani mengaku dipaksa untuk mengakui kalau dirinya adalah pencopet, sambil disiksa. Karena tak tahan menahan rasa sakit serta takut dengan ancaman akan dibunuh dengan melemparnya ke laut, akhirnya Jumhani terpaksa mengakui kalau dirinya pencopet. Meski pengakuannya tersebut bohong. Jumhani menambahkan, hal yang membuat dirinya heran ketika dirinya di bawa ke Polres Serang. Ia tidak boleh menghubungi siapapun termasuk pihak keluarga. Begitu juga dengan dompet yang berisi uang Rp1,3 juta hasil jerih payah dari jualan gorengan, KTP dan HP, diambila paksa oknum aparat di Polres Serang. Hal serupa juga di beritakan dalam media Banten Raya edisi 11 Juni 2012, “Korban Salah Tangkap akan ke Polda”.

Jumhani mengaku tidak terima dengan perlakuan oknum anggota polisi yang memaksanya sebagai pencopet. Terlebih dengan cara disiksa dan disetrum. Akhirnya secara resmi, Jumhani melaporkan apa yang sudah dialaminya ke Sentra Pelayanan Propam (SPP) Polda Banten pada Senin (11/6). Mengadukan anggota Polres Serang dengan Tuduhan telah menangkap dan menahannya selama 9 hari tanpa surat penahanan resmi, Banten Raya edisi 12 Juni 2012,” Korban Salah Tangkap Lapor Propam”.

Kasus salah tangkap yang dilakukan oknum aparat Polres Serang terhadap Jumhani ternyata memunculkan reaksi keras dari sejumlah pihak. Dalam media Kabar Banten edisi 15 Juni 2012, “Kapolda Jangan Diam”, dalam hal ini Indonesia Police Watch (IPW) meminta agar kapolda Banten bertanggungjawab atas kasus penculikan dan penyiksaan terhadap Jumhani. IPW pun meminta agar kapolda Banten memecat oknum polisi itu secara tidak hormat.

Hingga memasuki akhir pekan, akhirnya Polda Banten dalam menindaklanjuti dugaan kasus salah tangkap, sudah menetapkan 9 anggota Polres Serang yang akan diperiksa. Kabid Propam Polda Banten, AKBP Krisnandi mengatakan, proses pemeriksaan terhadap pelapor dan terlapor sudah selesai. Nantinya, Propam Polda Banten akan menyerahkan kesembilan anggota tersebut ke Kapolres Serang, sebagai atasan yang berhak menghukum. Krisnandi juga menambahkan bahwa harta benda korban juga sudah dikembalikan, Kabar Banten 16 Juni 2012, “9 Anggota Polres Serang Diperiksa”.

Selama seminggu memantau, nampak terlihat adanya keseriusan wartawan dalam mengungkap kasus dugaan salah tangkap yang dilakukan oleh oknum Polres Serang terhadap Jumhani (35). Setidaknya, di empat hari yang berbeda, pengembangan kasus tersebut kerap dimuat dalam beberapa edisi, yakni Kabar Banten edisi 11, edisi 12, edisi 15 dan edisi 16. Sedangkan dalan Banten Raya termuat dalam edisi 11, edisi 12, dan edisi 16. Namun, dari beberapa artikel yang dimuat, pemantau menemukan satu kejanggalan dalam salah satu artikel. Dalam Kabar Banten 16 Juni 2012, “9 Anggota Polres Serang Diperiksa”. Ada satu kutipan Krisnandi yang mengatakan bahwa “harta benda korban juga sudah dikembalikan”. Sebaliknya, dalam Banten Raya edisi 16, “Sembilan Anggota Polres Diproses”, terkait dengan uang Rp1,3 juta dan handphone milik Jumhani yang disita, Krisnandi mengatakan, “Nanti akan dikembalikan”. Dengan informasi yang seperti ini, jelas akan membuat pembaca bingung, tak terkecuali pemantau yang bingung menentukan mana yang benar dan mana yang salah. Sebagai seorang wartawan seharusnya  bisa menjaga keatualan pemberitaan dengan sumber informasi yang jelas, sehingga kredibilitas pemberitaannya bisa lebih dipertanggungjawabkan.

Selama sepekan melakukan pemantauan tidak ditemukan perilaku media yang kurang baik. [fs]

 

Be Sociable, Share!

Tentang Penulis

Pria asli Lebak, Banten kelahiran 7 Juni 1988 ini akrab disapa Aboy. Terakhir ia menamatkan pendidikannya di SMAN 3 Rangkasbitung. Selain berwirausaha, sekarang ia aktif di kegiatan jurnalisme warga akumassa.org sebagai penulis aktif dan pemantau media lokal di Lebak, Banten. Di wilayah tempat tinggalnya, ia juga aktif bersama Saidjah Forum.

Lihat semua tulisan

Tinggalkan Komentar

comm comm comm

www.akumassa.org adalah bagian dari program akumassa yang digagas oleh Forum Lenteng sebagai sebuah program pemberdayaan komunitas dengan berbagai media komunikasi, antara lain: video, teks, dan suara. akumassa memiliki strategi: penggerakan motivasi, memproduksi karya, pendokumentasian, berkelanjutan, pemberdayaan medium filem dan video, berbagi informasi serta merekam potensi lokal dengan cara berkolaborasi dengan komunitas dampingan.

akumassa:
Jl. Raya Lenteng Agung No.34 RT.007/RW.02
Lenteng Agung - Jakarta Selatan
DKI Jakarta 12610
Telp. (+6221) 78840373

www.akumassa.org // info@akumassa.org



© Agustus 2008 - 2012 ( akumassa )

// Forum Lenteng // Jurnal Footage // Dongeng Rangkas // Naga // Radio akumassa //