Akselerasi Pemkot Tangsel: Pencanangan Percepatan Di Berbagai Lini

Headline Harian Tangsel Pos Edisi Rabu 16 Mei 2012. Courtesy Harian Tangsel Pos

Dari pantauan selama sepekan ini ada tiga topik  yang berbeda. Namun ketiga topik yang berbeda tersebut hemat saya memiliki korelasinya. Pada edisi Rabu, 16 Mei 2012 Harian Tangsel Pos mengangkat topik seputar Kota Tangerang Selatan yang dijadikan sebagai pilot project pendidikan di Provinsi Banten,   edisi Selasa, 15 Mei 2012, harian Tangsel Pos mengangkat topic seputar wacana pembangunan Monorel dan pada edisi Rabu, 16 Mei 2012 harian Tangsel Pos mengangkat topik seputar program lingkungan hidup termasuk diantaranya pengadaan hutan kota di tiap-tiap kecamatan.

Dijadikannya Kota Tangerang Selatan sebagai pilot project pendidikan menuju pendidikan wajib belajar 12 tahun pada tahun 2013. Harian Tangsel Pos menulis, “Pertimbangannya, Kota yang dipimpin Airin Rachmi Diany ini rata-rata lama belajar sekolahnya telah mencapai angka 10,15 tahun. “Jika dihitung secara provinsi, angka rata-rata lama sekolah di Banten baru 8,32 tahun, “ kata Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Banten Hudaya Latuconsina (Tangsel Pos, 16/5/2012). Tangsel Pos menambahkan, menurut anggota Komisi B Dewan  Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Tangsel , TB Rahmatuhlah mengatakan Tangsel sudah layak menjadi pilot project wajib belajar 12 tahun. Dari segi kemampuan ekonominya pun bagus serta sarana prasarana pendidikannya sudah memungkinkan. Lebih lanjut TB mengatakan, artinya Bantuan Operasional Daerah (Bosda) sudah diberikan untuk anak-anak SMA untuk tahun2013 (Tangsel Pos, 16/5/2012). Dijadikannya Kota Tangerang Selatan sebagai pilot project, harian Tnagsel Pos menambahkan pada edisi Jumat, 18 Mei 2012, jumlah rata-rata lama sekolahnya tertinggi dan jumlah ini jauh meninggalkan kota lain seperti kota Tangerang yang baru mencapai rata-rata 9,98 tahun, disusul kota Cilegon 9,67 tahun. Lanjut pada edisi, Selasa, 15 Mei 2012, harian Tangsel Pos mengangkat rencana pembangunan Monorel. Seperti ditulis harian Tangsel Pos  bahwa Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Tangerang Selatan masih melakukan tahap kajian terkait pembangunan monorel. Rencana awal, monorel mulai dikerjakan awal tahun 2013. Pemkot Tangsel masih terus melakukan kajian dengan provinsi Banten terkait studi kelayakan. Direncanakan pembangunan Monorel Serpong-Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Dalam hal ini seperti yang ditulis Harian Tangsel Pos rencana pembangunan Monorel tersebut akan dimasukkan dalam Rancangan Tata Ruang Wilayah Tangsel melalui Peraturan Daerah(Perda). Kebijakan pengadaan Hutan Kota di tiap-tiap kecamatan yang digulirkan oleh Pemkot Tangsel juga mendapat pemberitaan di Harian Tangsel Pos. Harian ini menulis Pemkot menginstruksikan pengembang untuk menyediakan RTH, mengintensifkan penanaman pohon, menggulirkan program “One Man One Tree” yang tengah dijalankan. Hal ini demi mewujudkan Tangsel Hijau.

Dari beberapa topik pemberitaan yang saya ulas diatas memiliki relevansi dan signifikansinya dengan percepatan atau akselerasi Pemerintah Kota Tangerang Selatan dalam mempercepat pembangunan kota di berbagai sektor. Diantaranya sektor pendidikan, pembangunan Monorel dan pengadaan RTH maupun penyediaan Hutan Kota di tiap-tiap kecamatan menurut hemat saya merupakan tiga leading sector yang menjadi skala prioritas Pemkot dalam mengakselerasi percepatan pembangunan Kota Tangerang Selatan. Namun dalam hal ini harian Tangsel Pos tidak menulis tentang pandangan kritisnya terkait hal tersebut seperti dijadikannnya Kota Tangerang Selatan sebagai pilot project pendidikan di Provinsi Banten. Hal yang perlu menjadi catatan ialah dampaknya. Dijadikannya Kota Tangsel sebagai Pilot Project terkesan hanya melihat aspek kuantitasnya saja dengan mewajibkan peserta didik untuk menuntaskan wajib belajar 12 tahun yang akan digulirkan pada tahun 2013 nanti. Disamping itu, rencana pembangunan Monorel dari isi berita yang saya amati hanya berada dalam domain antara Pemkot dan Pemprov Banten. Padahal moda transportasi Monorel merupakan masalah bersama diantara wilayah di Jabodetabek. Harian Tangsel Pos luput memberitakan tentang masalah ini yang sesungguhnya memiliki relasi dengan wilayah disekitarnya. Begitupun juga dengan kebijakan penanaman pohon dengan menggalakkan One Man One Tree yang terkesan mengejar target saja dan sedikit pemaksa kepada masyarakat. Dalam konteks ini, harian ini tidak memberitakan upaya Pemkot dalam memberi penyadaran kepada masyarakat. Artinya disini pola komunikasi yang dilakukan oleh Pemkot masih bersifat Top-down. Padahal program yang digulirkan seperti ini perlu melibatkan partisipasi aktif masyarakat. Jadi tidak sebatas meninstruksikan saja tetapi lebih tepatnya berkerjasama dan berkolaborasi antara Pemkot dan masyarakat.

Dalam pekan ini harian Suara Tangsel tidak terbit karena berbagai alasan. Saat saya konfirmasi menurut pihak harian Suara Tangsel pihaknya sedang melakukan “Konsolidasi”. Entahlah apa yang dimaksud dengan kata “Konsolidasi”. Saat tanyakan kapan akan kembali terbit pihak harian Suara Tangsel menjawab belum dipastikan tapi pasti akan terbit kembali. Sama seperti pekan-pekan sebelumnya pemberitaan terkait good governance tetap mendominasi pemberitaan.  Isu utama dalam sepekan pemberitaan dari yang saya amati adalah akselerasi Pemerintah Kota Tangerang Selatan dalam melakukan percepatan pembangunan di berbagai lini. Ada tiga leading sector yang menjadi pemberitaan utama di edisi pekan ini. [rrk]

Be Sociable, Share!

Tentang Penulis

Renal Rinoza lahir di Jakarta, 8 Maret 1984. Tahun 2004 kuliah di Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta dan lulus tahun 2010. Tahun 2007 sempat kuliah di Program E.C Ilmu Filsafat Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta. Sehari-hari bergiat Komunitas Djuanda dan aktif menulis di Jurnal Footage, akumassa.org, dan Program Pemantauan Media akumassa.org.

Lihat semua tulisan

Tinggalkan Komentar

comm comm comm

www.akumassa.org adalah bagian dari program akumassa yang digagas oleh Forum Lenteng sebagai sebuah program pemberdayaan komunitas dengan berbagai media komunikasi, antara lain: video, teks, dan suara. akumassa memiliki strategi: penggerakan motivasi, memproduksi karya, pendokumentasian, berkelanjutan, pemberdayaan medium filem dan video, berbagi informasi serta merekam potensi lokal dengan cara berkolaborasi dengan komunitas dampingan.

akumassa:
Jl. Raya Lenteng Agung No.34 RT.007/RW.02
Lenteng Agung - Jakarta Selatan
DKI Jakarta 12610
Telp. (+6221) 78840373

www.akumassa.org // info@akumassa.org



© Agustus 2008 - 2012 ( akumassa )

// Forum Lenteng // Jurnal Footage // Dongeng Rangkas // Naga // Radio akumassa //