Wilayah Lokal Sama, Tapi Cara Saji Beda

Pada pekan ini, pemberitaan diramaikan dengan kasus hukum, namun dengan kasus yang berbeda. Pertama, seputar perkembangan kasus dugaan korupsi yang melibatkan pejabat dan mantan pejabat Dishubkominfo Kota Tangsel mengenai pengadaan alat KIR. Kedua, perkembangan kasus pembunuhan mahasiswi UIN, yang dalam hal ini memperlihatkan kemajuan berarti. Pada kasus hukum yang pertama, berada dalam ranah good governance karena berhubungan dengan tata kelola pemerintahan dan pada kasus hukum yang kedua, yakni kasus pembunuhan mahasiswi UIN, berada dalam ranah kriminalitas.

Headline Tangsel Pos tentang Kasus di Dishubkominfo Kota Tangsel. Courtesy: Harian Tangsel Pos edisi, Kamis 26 April 2012

Kedua harian, Tangsel Pos dan Suara Tangsel sama-sama memberitakan seputar kasus dugaan korupsi di lingkungan Dishubkominfo Kota Tangsel dan kasus pembunuhan mahasiswi UIN. Kasus dugaan korupsi pengadaan alat KIR di Dishubkominfo Kota Tangsel mengemuka setelah pihak Kejaksaan Negeri (Kejari) Tigaraksa Kabupaten Tangerang mengusutnya. Dalam informasi yang diperoleh, pihak Kejari masih memeriksa penyelidikan mengenai kasus ini dan pihak Pemkot pun melalui pernyataan Wakil Walikota Tangsel Benyamin Davnie masih menunggu hasil penyelidikan Kejaksaan Negeri (kejari) terhadap kasus dugaan korupsi Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo). “Kami masih menunggu, biarpun proses ini berjalan, karena ini semua masih dalam penyelidikan Kejari, “ katanya (Tangsel Pos 23/4/2012). Pemberitaan mengenai kasus dugaan korupsi di Dishubkominfo ini harian Tangsel Pos memuatnya secara simultan, dimuat dalam headline mulai awal pekan, 23-27 April 2012, terkeculai edisi 25 April 2012 harian Tangsel Pos menurunkan headline tentang kasus pembunuhan mahasiswi UIN. Sedangkan di harian Suara Tangsel, hanya pada edisi Jumat-Minggu, 27-29 April 2012 yang memuatnya dalam headline, selebihnya berita ini dimuat dalam rubrik lain. Sementara itu, mengenai kasus pembunuhan mahasiswi UIN, Izzun Nahdliyah (24) mengalami kemajuan yang berarti dengan ditangkapnya seluruh pelaku pembunuhan, termasuk otak pelaku pembunuhan yang tertangkap di rumahnya. Sebelumnya pada edisi hari Rabu, 25 April 2012, harian Tangsel Pos menurunkan headline yang memuat informasi tertangkapnya 5 dari 6 pelaku pelaku pembunuhan. Hal yang sama juga dimuat harian Suara Tangsel dalam headline-nya, “ Polisi Bekuk Tersangka Pembunuh Mahasiswi UIN.

Headline Tangsel Pos tentang Penangkapan Otak Pelaku Pembunuhan Mahasiswi UIN. Courtesy: Harian Tangsel Pos edisi Sabu-Minggu, 28 April 2012

Hal yang patut dicermati adalah bagaimana media membingkai suatu berita dan berita mana yang akan dipilih untuk dijadikan headline atau isu apa yang menjadi titik tekan media tersebut. Dalam hal ini, saya menemukan perbedaan yang mendasar. Terbukti dari data matriks rekapitulasi, saya temukan harian Tangsel Pos tetap konsisten mengawal dan menyoroti kasus dugaan korupsi pejabat dan mantan pejabat di lingkungan Dishubkominfo Kota Tangsel, begitu pun pada kasus pembunuhan mahasiswi UIN yang sangat menghebohkan pada pekan sebelumnya. Sementara, harian Suara Tangsel pada pekan ini mengambil stressing pemberitaan pada frame yang berbeda, yakni isu di seputar pemerintahan Kota Tangerang Selatan meskipun memuat pemberitaan tentang dugaan korupsi di Dishubkominfo dan pembunuhan mahasiswi UIN. Namun, yang menjadi catatan saya di sini ialah isu yang coba digelindingkan oleh harian Suara Tangsel pada pekan ini adalah menyoroti kinerja setahun kepemimpinan Airin-Benyamin. Tentang hal ini, harian Suara Tangsel sangat gencar memberitakannya secara simultan, terbukti pada edisi Senin, 23 April 2012 menurunkan headline, “Aksi Mahasiswa Setahun Kepemimpinan Airin-Benyamin; Airin-Ben Gagal Urus Tangsel”, edisi Selasa, 24 April 2012, “Kompak, DPRD Maklumi Kinerja Buruk Walikota Airin Dihadiahi Korek Kuping Raksasa”, edisi Kamis, 26 April 2012, “Para Lurah PLT Kota Tangsel Keluhkan Statusnya”, dan terakhir edisi Jumat-Minggu, 27-29 April 2012, “ Kepsek-kepsek Males Buat Kegiatan; Aturan Baru Bosda Tangsel Ribet!”. Jelas, ini sangat kontras dengan apa yang diberitakan oleh harian Tangsel Pos dalam sepakan ini, bahkan harian Tangsel Pos tidak memuat apa yang diberitakan oleh harian Suara Tangsel. Yang menyamakan pemberitaan adalah seputar kasus dugaan korupsi di Dishubkominfo dan penangkapan pelaku pembunuhan mahasiswi UIN.  Perbedaan mengenai penyajian berita pada kedua media ini adalah  porsi berita yang dimuat di harian Suara Tangsel tidaklah sebesar pemberitaan yang ada di harian Tangsel Pos.  Sama seperti pekan lalu, pada pekan ini harian Tangsel Pos masih saja menggunakan kesalahan penggunaan kosakata dalam menurunkan headline dengan kosakata “Saat ebrniat Melarikan Diri; Otak Penggorok Izzun Ditangkap”. Hemat saya, penggunaan kata tersebut merupakan bentuk kesalahan kosakata. Alasannya cukup jelas yakni pada tataran alasan kesopanan (eufemisme) dalam penggunaan bahasa jurnalistik yang baik.

Hemat saya, mengenai disparitas konten pemberitaan di kedua media adalah sesuatu hal yang wajar-wajar saja karena bagaimana pun itu terpulang pada kebijakan redaksional media masing-masing. Namun, saya menilai untuk kedua media lokal di Tangsel ini, terlepas dari kewajaran dalam hal perbedaan konten, ditemukan bahwa kedua media memiliki sudut pandang yang berbeda dalam menurunkan berita. Yang menarik, harian Suara Tangsel memuat headline pada edisi Rabu, 25 April 2012 tentang Curanmor yang tewas diamuk massa dan tentunya harian Tangsel Pos tidak memberitakannya.

Be Sociable, Share!

Tentang Penulis

Renal Rinoza lahir di Jakarta, 8 Maret 1984. Tahun 2004 kuliah di Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta dan lulus tahun 2010. Tahun 2007 sempat kuliah di Program E.C Ilmu Filsafat Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta. Sehari-hari bergiat Komunitas Djuanda dan aktif menulis di Jurnal Footage, akumassa.org, dan Program Pemantauan Media akumassa.org.

Lihat semua tulisan

Tinggalkan Komentar

comm comm comm

www.akumassa.org adalah bagian dari program akumassa yang digagas oleh Forum Lenteng sebagai sebuah program pemberdayaan komunitas dengan berbagai media komunikasi, antara lain: video, teks, dan suara. akumassa memiliki strategi: penggerakan motivasi, memproduksi karya, pendokumentasian, berkelanjutan, pemberdayaan medium filem dan video, berbagi informasi serta merekam potensi lokal dengan cara berkolaborasi dengan komunitas dampingan.

akumassa:
Jl. Raya Lenteng Agung No.34 RT.007/RW.02
Lenteng Agung - Jakarta Selatan
DKI Jakarta 12610
Telp. (+6221) 78840373

www.akumassa.org // info@akumassa.org



© Agustus 2008 - 2012 ( akumassa )

// Forum Lenteng // Jurnal Footage // Dongeng Rangkas // Naga // Radio akumassa //