Tiga TKI Tewas Ditembak dan Diduga Penjualan Organ Tubuh.

(Dikutip dari Radar Lombok, 24 April 2012)

 

Hasil pemantauan yang saya lakukan dari tanggal 23 hingga 28 April 2012 terhadap dua koran lokal Lombok (Radar Lombok dan Lombok Post) menunjukkan bahwa good governance memang isu yang masih paling banyak dibahas. Sebanyak 65,55556 % termasuk isu good governance, isu HAM 23,33333 %, isu perempuan dan/atau anak 3,333333 %, lingkungan hidup 7,777778%, dari 90 total jumlah berita.

Isu good governance memang, selama pemataun media lokal Lombok, selalu mendominasi jumlah isu. Namun, jika dicermati, ada isu lain yang lebih menarik perhatian, yakni isu tentang HAM. Dari  tanggal 23 hingga 28 April 2012, perhatian pemantauan fokus pada pemberitaan kedua media lokla Lombok itu terkait persoalan “Tiga TKI Tewas Ditembak” dan “Diduga Penjualan Organ Tubuh”.

Keluarga tiga TKI asal Kecamatan Pringgasela, Lombok Timur, yang tewas tertembak di Malaysia, Sabtu lalu (31/3), akhirnya mengadu ke Polda NTB, kemarin (23/4). Keluarga mengadukan kejanggalan kematian Misdar alias Mad Nur (34 tahun) Warga Gubuk Timuk Lauk Pengadangan, Abdul Kadir Jaelan (25 tahun) dan Herman (28 tahun), keduanya warga RT 1 Pancor Kopong Pringgasela Selatan, Kecamatan Pringgasela, Lombok Timur (Radar lombok, edisi Selasa, 24 April 2012).

Keluarga tiga TKI yang tewas tertembak dan diduga menjadi korban penjualan organ tubuh di Malaysia terus meminta kepastian hukum. Keluarga ketiga korban telah melapor ke Polda NTB dan Kementerian Luar Negeri. Namun, laporan mereka di Polda ditolak dan diminta melengkapi berbagai data yang dibutuhkan polisi. Kendati sudah melapor, namun kejelasan kapan akan dilakukan otopsi terhadap mayat tiga TKI ini dari pemerintah, baik Provinsi maupun Kabupaten, sampai sejauh ini masih belum jelas (Radar Lombok, edisi Rabu, 25 April 2012). Gubernur NTB, Dr TGH M Zainul Majdi, gerah dengan perlakuan pemerintah Malaysia terhadap TKI asal Lotim yang tewas ditembak dan organnya diduga dijual. Bahkan, Gubernur bersurat ke Menko Polhukam, Menteri Luar Negeri, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi dan meminta segera melayangkan protes kepada pihak Pemerintah Malaysia.  (Lombok Post, edisi Rabu, 25 April 2012).

Ketiga mayat yang tewas ditembak di Malaysia akhirnya diotopsi hari ini (26/4). Kepolisian daerah (Polda) NTB telah menerima instruksi dari Mabes Polri agar segera melakukan otopsi. (Radar lombok, edisi Rabu, 26 April 2012). Saksi mata otopsi dari pihak keluarga ketiga  TKI menyatakan, mereka melihat mayat Herman tanpa bola mata. Organ bagian dalam dada dan perut korban dalam keadaan terpisah-pisah. Kesaksian itu disampaikan ayah kandung Abdul kadir Jaelani, Amaq Rupni, kepada Radar Lombok di kediamannya. (Radar lombok, edisi Jum’at, 27 April 2012).

Hasil otopsi ulang tiga TKI yang tewas di Malaysia oleh Polri dan tim kedokteran forensik, menunjukkan tidak ada organ tubuh yang hilang. Kata Kepala Pusat Kedokteran dan Kesehatan Polri, Brigjen (Pol) Mussadeq Ishaq, dalam jumpa pers di Kantor Kementerian Luar Negeri, Jum’at kemarin  (27/4). Jumpa pers itu juga dihadiri Menlu Marty Natalegawa. Meskipun dugaan pencurian organ tidak terbukti, namun pemerintah tetap mendorong pemerintah Malaysia untuk melakukan investigasi terhadap tindakan kepolisian Diraja Malaysia yang telah menyebabkan kematian tiga warga Indonesia tersebut. (Radar lombok, edisi Sabtu, 28 April 2012).

Dari 23 sampai dengan 28 April 2012, isu HAM yang berkaitan dengan Tiga TKI Tewas Ditembak dan Diduga Penjualan Organ Tubuh. Pada kalimat Saksi mata otopsi dari pihak keluarga ketiga  TKI menyatakan, melihat mayat Herman tanpa bola mata. Organ bagian dalam dada dan perut korban dalam keadaan terpisah-pisah. Kedua media lokal tersebut terkesan mempropokasi dengan terlalu membesar-besarkan kejadian dan menggunakan kata-kata yang tidak berprikemanusiaan, seperti pada kalimat tanpa bola mata, dada dan perut korban dalam keadaan terpisah-pisah (Radar lombok, edisi Jum’at, 27 April 2012; Lombok Post, edisi 27 April 2012)Sebagai masyarakat lokal, saya melihat kata-kata itu terlalu sadis dan saya menyarankan agar kedua media menggunakan kalimat yang lebih sederhana dan tidak terkesan memprofokasi. 

Be Sociable, Share!

Tentang Penulis

Dilahirkan di Pemenang, Lombok Utara pada tanggal 31 Desember 1979. Ia adalah seorang wirausaha yang aktif dalam kegiatan di komunitas lokalnya, Komunitas Pasir Putih. Selain itu ia juga ambil bagian dalam kegiatan pemantauan media lokal berbasis komunitas bersama Forum Lenteng.

Lihat semua tulisan

Tinggalkan Komentar

comm comm comm

www.akumassa.org adalah bagian dari program akumassa yang digagas oleh Forum Lenteng sebagai sebuah program pemberdayaan komunitas dengan berbagai media komunikasi, antara lain: video, teks, dan suara. akumassa memiliki strategi: penggerakan motivasi, memproduksi karya, pendokumentasian, berkelanjutan, pemberdayaan medium filem dan video, berbagi informasi serta merekam potensi lokal dengan cara berkolaborasi dengan komunitas dampingan.

akumassa:
Jl. Raya Lenteng Agung No.34 RT.007/RW.02
Lenteng Agung - Jakarta Selatan
DKI Jakarta 12610
Telp. (+6221) 78840373

www.akumassa.org // info@akumassa.org



© Agustus 2008 - 2012 ( akumassa )

// Forum Lenteng // Jurnal Footage // Dongeng Rangkas // Naga // Radio akumassa //