Uji Kompetensi Wartawan

Surabaya_Post_Halaman_6_Sabtu_21_April_2012

Surabaya_Post_Halaman_6_Sabtu_21_April_2012

Radar Surabaya dan Surabaya Post, selama pemantauan pekan lalu (16 April – 22 April 2012 ), memuat artikel berita dengan dominasi isu yang berkaitan dengan good governance secara dominan. Data yang berhasil dihimpun, 56 (91,803%) artikel berita isu good governance dimuat pada surat kabar Radar Surabaya selama sepekan, sedangkan untuk surat kabar Surabaya Post, memuat 69 (97,183%) artikel berita, yang berkaitan juga dengan isu good governance dalam kurun waktu yang sama. Artikel berita lain yang dapat dihimpun selama pemantuan adalah 2 (3,278%) artikel berita mengenai isu Hak Asasi Manusia (HAM), 2 (3,278%) artikel berita kriminalitas, dan isu lingkungan hidup dengan 1 (1,639%) artikel berita, dengan jumlah total 61 berita selama sepekan pada harian Radar Surabaya. Untuk Surabaya Post, artikel berita lain yang masuk pendataan selama pemantauan, meliputi, 1 (1,408%) artikel berita mengenai isu kriminalitas dan 1 (1,408%) artikel berita mengenai lingkungan hidup, dari total 71 berita selama sepekan pemantauan. Jadi total artikel seluruhnya yang terpantau adalah 132 artikel.

Pemberitaan dalam kurun waktu sepekan lalu yang berkaitan dengan good governance, antara lain tentang,  pemerintah yang belum membongkar bangunan yang didirikan di atas brandgang saluran atau jalan inspeksi. Sudah sekitar setahun lebih, bangunan yang didirikan di atas brandgang saluran atau jalan inspeksi itu belum disentuh Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya untuk diadakan pembongkaran (Surabaya Post, 17 April 2012). Kemudian, berita-berita mengenai isu seputaran keadaan Ujian Nasional (UN) di Surabaya, beredarnya kunci jawaban palsu, hingga konflik-konflik internal yayasan terhadap pelaksanaan UN. Isu yang berkaitan dengan cagar budaya juga sempat dimuat dalam pekan lalu, yakni tentang bagaimana keadaan cagar budaya yang berpindah tangan atau dikelola oleh perusahaan swasta. Dan ironisnya, cagar budaya ini kebanyakan tidak terawat dan beralih fungsi. Bak barang rongsokan, cagar budaya milik Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya yang berpindah tangan ke swasta (perusahaan/perorangan) terus membengkak mencapai 190 buah. Lebih ironis, cagar budaya yang telah menjadi ‘plat hitam’ itu beralih fungsi tanpa mengindahkan aturan. Misalnya, tak menjaga bentuk asli, bahkan kini tinggal puing-puing (Surabaya Post, 18 April 2012).

Selama sepekan, terdapat satu berita yang perlu diamati lebih dalam, yakni mengenai sejumlah wartawan yang mengikuti ujian kompetensi. Tetapi dalam pemberitaannya, dua surat kabar ini berbeda cara penyampaiannya. Sebanyak 60 wartawan dari berbagai media di Jatim, kemarin—(19/4), mengikuti uji kompetensi wartawan (UKW). Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari Surat Keputusan (SK) Dewan Pers Nomor 14/SK-DP/II/2011 tentang penetapan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) sebagai lembaga penguji kompetensi wartawan. “Kegiatan ini untuk menciptakan wartawan yang profesional dan memiliki standar kompetensi,” kata Ketua PWI Jatim, Akhmad Munir, dalam sambutannya. Uji kompetensi wartawan ini digelar di Gedung Kadin Jatim selama dua hari pada 19-20 April 2012. Uji kompetensi PWI ini merupakan yang pertama di Jatim. Namun, ini kegiatan yang kali ke-33 di seluruh Indonesia. Akhmad Munir mengutarakan, seluruh wartawan nantinya harus memiliki standar kompetensi. Ini sesuai peraturan Dewan Pers Nomor 1/ peraturan-DP/II/2010 tentang Standar Kompetensi Wartawan (SKW) (Radar Surabaya, 20 April 2012).

Radar_Surabaya_Halaman_3_Jumat_20_April_2012

Radar_Surabaya_Halaman_3_Jumat_20_April_2012

Sebanyak 50 wartawan Jawa Timur mengikuti Uji Kompetensi Wartawan (UKW) yang pertama kali digelar Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jatim selama dua hari, yaitu Kamis (19/4) dan Jumat (20/4). Dari 50 wartawan tersebut, ada tiga wartawan yang dinyatakan tidak lulus. Perwakilan Tim Penguji UKW, Uyun Achidiat,  mengatakan dari 60 wartawan Jatim yang diusulkan mengikuti UKW melalui medianya masing-masing, ternyata yang ikut atau registrasi hanya 50 wartawan. Sedangkan tiga peserta yang dinyatakan tidak lulus karena beberapa faktor, antara lain terlambat masuk ruang UKW, sakit dan tanpa keterangan (Surabaya Post, 21 April 2012).

Walaupun pada dasarnya jumlah dari keseluruhan wartawan adalah 60, dan kedua surat kabar ini sama mendapatkan jumlahnya, tapi cara pemberitaan jelas berbeda. Untuk Surabaya Post lebih menekankan terhadap jumlah wartawan yang lulus dan tidak lulus. Serta, dari total keseluruhan dan yang ikut terdaftar atau registrasi. Sedangkan untuk Radar Surabaya, hanya mencantumkan jumlah keseluruhan peserta, tanpa memberitakan ada sejumlah wartawan yang tidak lulus uji kompetensi. Menurut saya, detail pemberitaan yang diberikan dua surat kabar ini bisa membingungkan para pembacannya, mana yang harus dijadikan acuan.

Be Sociable, Share!

Tentang Penulis

Salah seorang kontributor perwakilan surabaya-jawa timur dalam program pemantauan media berbasis komunitas ini lahir di Wonosobo, Januari 1988. Saat ini masih menyandang status sebagai mahasiswa di Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Pembangunan Nasional " Veteran " Jawa Timur. Selain itu ia merupakan anggota dari Komunitas Kinetik Surabaya yang didirikan pada tahun 2010 dan bekerjasama dengan Forum Lenteng dalam program akumassa.

Lihat semua tulisan

Tinggalkan Komentar

comm comm comm

www.akumassa.org adalah bagian dari program akumassa yang digagas oleh Forum Lenteng sebagai sebuah program pemberdayaan komunitas dengan berbagai media komunikasi, antara lain: video, teks, dan suara. akumassa memiliki strategi: penggerakan motivasi, memproduksi karya, pendokumentasian, berkelanjutan, pemberdayaan medium filem dan video, berbagi informasi serta merekam potensi lokal dengan cara berkolaborasi dengan komunitas dampingan.

akumassa:
Jl. Raya Lenteng Agung No.34 RT.007/RW.02
Lenteng Agung - Jakarta Selatan
DKI Jakarta 12610
Telp. (+6221) 78840373

www.akumassa.org // info@akumassa.org



© Agustus 2008 - 2012 ( akumassa )

// Forum Lenteng // Jurnal Footage // Dongeng Rangkas // Naga // Radio akumassa //