Beda Angle, Beda Arti

Pemantauan yang telah dilakukan dari tanggal 9 hingga 15 April 2012 terhadap Radar Depok, Monitor Depok dan Jurnal Depok menunjukkan bahwa good governance masih tetap menjadi isu yang dominan. Dari 138 artikel berita, 55,072% adalah good governance, 23,188% lingkungan hidup, 13,043% adalah isu kriminalitas, 7,246% isu perempuan dan/atau anak, dan hanya 1,449% yang merupakan isu hak asasi manusia (HAM).

Masalah tentang pengadaan rumah murah untuk wartawan dan ketidakefektifan dari kebijakan ODNR (sehari tanpa nasi) Pemkot Depok cukup mendapat sorotan dari tiga koran tersebut. Demonstrasi dari siswa SD di Sukmajaya dan Mekar Jaya, yang sekolahnya rusak juga menjadi bahan berita, seiring dengan berita terbaru tentang kinerja dari Pemkot Depok yang sekarang sedang dikaji oleh itjen Otonomi Daerah, Kementrian Dalam Negeri melalui Tim Teknis Nasional Penilai Evaluasi Penyelenggaraan Pemerintah Daerah (EPPD). Persoalan beras miskin (raskin) yang tidak bermutu, perkembangan tentang camat gate, dan highlight tentang UN juga mewarnai kategori isu good governance pada minggu ini.

Selain good governance, isu tentang perempuan dan/atau anak juga mendapat perhatian dari pemantau minggu ini. Hal itu terkait dengan perkembangan informasi tentang Ujian Nasional (UN) yang sedang berlangsung di Kota Depok. MAN, siswa SD pelaku penusuk teman sekelasnya dijamin oleh Pengadilan Negeri untuk tetap dapat mengikuti UN tingkat SD di awal Mei nanti. Di samping itu, terdapat juga berita yang menginformasikan bahwa ada siswi SMP yang terancam tidak dapat mengikuti UN karena kedapatan melakukan semacam kenakalan yang berakibat fatal (seks bebas).

Yang menarik, pada tanggal 14 April 2012, tiga koran tersebut membahas kasus yang sama, tetapi dengan menggunakan angle yang berbeda sehingga memberikan semacam persepsi yang berbeda pula terhadap siswi yang bersangkutan. Radar Depok, dengan judul “MBA, Siswa Cipayung Tak Bisa Ikut UN – Sik-asik Mesum Ria di Warnet”, menyebutkan bahwa siswi melakukan perbuatan asusila dan menuntuk untuk dinikahi oleh teman yang melakukan tindakan asusila tersebut. Pemantau mendapat kesan bahwa Radar Depok menstigma siswi sebagai anak yang nakal. Sedangkan Monitor Depok, dengan judul “2 Sejoli kepergok mesum di warnet”, juga mendiskreditkan si siswi sebagai anak yang nakal karena berbuat mesum di toilet warnet. Hal yang berbeda terlihat pada Jurnal Depok, dengan judul “Supir Cabuli Siswi di Warnet”, yang secara cukup jelas menempatkan si siswi sebagai korban dari tindakan asusila seorang supir angkutan kota.

Pemilihan angle dalam menuliskan berita memang menjadi hak otoritas dari wartawan sebagai peliput dan penulis berita. Namun demikian, menurut saya sebagai pembaca, alangkah lebih baiknya seorang jurnalis mampu menempatkan dirinya untuk membela yang mana. Dengan latar belakang seorang mahasiswa kriminologi, saya berpendapat bahwa bagaimana pun bentuk kasusnya, ketika anak terlibat, ia sesungguhnya menjadi korban. Semoga hal ini dapat dimengerti oleh wartawan lokal di Depok dan dapat lebih bijak dalam membangun angle tulisannya.

Be Sociable, Share!

Tentang Penulis

Manshur Zikri (21 tahun) adalah seorang mahasiswa Program Studi Kriminologi, FISIP, Universitas Indonesia. Saat ini dia menjadi salah seorang pemantau dalam Program Pemantauan Media Berbasis Komunitas, Forum Lenteng, untuk perwakilan lokasi Kota Depok. Selain aktif berkegiatan di Forum Lenteng, Zikri juga aktif dalam kegiatan jurnalisme warga bersama komunitas akumassa Depok, SUBURBIA, yang mengkaji persoalan sosial, budaya dan media di Kota Depok dan sekitarnya.

Lihat semua tulisan

Tinggalkan Komentar

comm comm comm

www.akumassa.org adalah bagian dari program akumassa yang digagas oleh Forum Lenteng sebagai sebuah program pemberdayaan komunitas dengan berbagai media komunikasi, antara lain: video, teks, dan suara. akumassa memiliki strategi: penggerakan motivasi, memproduksi karya, pendokumentasian, berkelanjutan, pemberdayaan medium filem dan video, berbagi informasi serta merekam potensi lokal dengan cara berkolaborasi dengan komunitas dampingan.

akumassa:
Jl. Raya Lenteng Agung No.34 RT.007/RW.02
Lenteng Agung - Jakarta Selatan
DKI Jakarta 12610
Telp. (+6221) 78840373

www.akumassa.org // info@akumassa.org



© Agustus 2008 - 2012 ( akumassa )

// Forum Lenteng // Jurnal Footage // Dongeng Rangkas // Naga // Radio akumassa //