Tajuk Tak Ada, Lebay Iya

Diambil dari Radar Depok, edisi 27 Maret 2012

Pemantauan minggu lalu, 26 Maret hingga 1 April 2012, pemantau melihat bahwa good governance menjadi isu yang paling dominan pada tiga koran lokal di Depok (Radar Depok, Monitor Depok dan Jurnal Depok). Persentasenya adalah good governance 48,965%; HAM 4,827%; perempuan dan anak 2, 758%; kriminalitas 17,241%; dan lingkungan hidup 26,206%.

Sebagaimana yang telah diketahui secara umum, masalah tentang BBM adalah isu good governance yang paling mendominasi, terutama artikel yang masih berkutat mengabarkan tentang kenaikan harga kebutuhan pokok masyarakat pra kenaikan harga BBM, seperti sembako, biaya kesehatan, transportasi. Pemberitaan tentang demonstrasi massa di jalan juga banyak menjadi bahan berita. Pemantau tidak mengategorikannya sebagai isu pelanggaran HAM karena berita yang disajikan lebih banyak mengacu pada bentuk protes masyarakat terhadap kebijakan pemerintah karena tidak menjalankan konsep good governance secara optimal. Tindak kekerasan oknum yang termasuk sebagai perilaku melanggar HAM pada aksi demonstrasi baru terbaca di penghujung minggu (Lihat Radar Depok dan Jurnal Depok edisi 1 April 2012).

Diambil dari Radar Depok, edisi 30 Maret 2012

Ada dua hal yang menarik perhatian pemantau pada minggu ini terhadap aktivitas media lokal di Kota Depok. Pertama, sejak kegiatan pemantauan ini dilakukan pada tanggal 13 Februari 2012, pemantau tidak menemukan artikel yang bisa dibilang sebagai Tajuk atau opini/refleksi dari media yang bersangkutan, atau artikel sejenisnya. Pada Radar Depok, misalnya, yang sudah cukup baik karena banyak menyajikan artikel yang berasal dari aspirasi atau unek-unek masyarakat pembaca, tetapi tidak menyajikan artikel yang bisa dilihat sebagai pernyataan sikap atau ideologi dari media yang bersangkutan. Bahkan, pada kolom opini pun tidak ditemukan artikel yang murni dari medianya. Monitor Depok juga demikian, banyak memuat keluhan warga yang didapatkan melalui SMS ponsel, tetapi tidak ditemukan artikel-artikel yang dapat dikatakan sebagai tajuk rencana dari Monitor Depok-nya sendiri. Apalagi Jurnal Depok, yang kontennya dimuat hanya pada satu atau dua halaman saja.

Diambil dari Jurnal Depok, edisi 30 Maret 2012

Berangkat dari poin pertama ini, wajar saja pemberitaan tiga koran lokal Depok ini tidak memperlihatkan arah yang jelas akan sikapnya terkait dengan isu kenaikan harga BBM yang heboh Bulan Maret lalu. Lantas berlanjut ke poin dua, pemantau menemukan beberapa artikel yang justru melabel kalangan atau kelompok tertentu yang terlibat dalam aksi menolak kenaikan harga BBM, serta juga melebih-lebihkan keadaan terkait demonstrasi pada judul artikelnya. Contohnya, Radar Depok edisi 27 Maret 2012, yang memuat artikel berjudul Kerusuhan Mei ’98 Terulang?: Hari Ini Ribuan Demonstran Geruduk Istana, dan edisi 30 Maret 2012 yang berjudul Demonstran Duduki DPR. Menurut pemantau, menggiring kecemasan pembaca terhadap trauma Mei 1998 merupakan hal yang tidak perlu. Lagipula, kata ‘duduki’ itu terkesan melebih-lebihkan, karena pada kenyataannya kerusuhan di DPR RI dapat diredam oleh aparat keamanan. Contoh lainnya adalah Jurnal Depok, edisi 30 Maret 2012, yang memuat artikel dengan judul Tepis Tindakan Anarkis Mahasiswa’: Azrul: Gerakan Pramuka Digalakkan di Perguruan Tinggi. Selain penggunaan istilah ‘anarkis’ yang keliru, kata ‘mahasiswa’ justru mengarahkan label masyarakat tentang aksi brutal yang hanya dilakukan mahasiswa. Padahal, provokasi bisa datang dari mana saja.

Menurut pendapat saya, ada baiknya media-media lokal ini lebih bijak dalam memuat berita, terutama pemilihan judul yang termuat dalam halaman pertama (headline). Apa pun yang tersaji dalam terbitan mereka dapat menimbulkan opini dan keyakinan tertentu di benak masyarakat pembaca. Ketika informasinya keliru tanpa ada langkah lanjutan untuk mengoreksi, akan memunculkan spekulasi dan disinformasi yang dapat merugikan publik. Selain itu, pemuatan tajuk rencana menjadi satu hal idiil yang harus dimiliki oleh media untuk menentukan sikapnya terhadap isu sosial masyarakat yang mereka bahas dalam terbitannya.

Be Sociable, Share!

Tentang Penulis

Manshur Zikri (21 tahun) adalah seorang mahasiswa Program Studi Kriminologi, FISIP, Universitas Indonesia. Saat ini dia menjadi salah seorang pemantau dalam Program Pemantauan Media Berbasis Komunitas, Forum Lenteng, untuk perwakilan lokasi Kota Depok. Selain aktif berkegiatan di Forum Lenteng, Zikri juga aktif dalam kegiatan jurnalisme warga bersama komunitas akumassa Depok, SUBURBIA, yang mengkaji persoalan sosial, budaya dan media di Kota Depok dan sekitarnya.

Lihat semua tulisan

Tinggalkan Komentar

comm comm comm

www.akumassa.org adalah bagian dari program akumassa yang digagas oleh Forum Lenteng sebagai sebuah program pemberdayaan komunitas dengan berbagai media komunikasi, antara lain: video, teks, dan suara. akumassa memiliki strategi: penggerakan motivasi, memproduksi karya, pendokumentasian, berkelanjutan, pemberdayaan medium filem dan video, berbagi informasi serta merekam potensi lokal dengan cara berkolaborasi dengan komunitas dampingan.

akumassa:
Jl. Raya Lenteng Agung No.34 RT.007/RW.02
Lenteng Agung - Jakarta Selatan
DKI Jakarta 12610
Telp. (+6221) 78840373

www.akumassa.org // info@akumassa.org



© Agustus 2008 - 2012 ( akumassa )

// Forum Lenteng // Jurnal Footage // Dongeng Rangkas // Naga // Radio akumassa //