Tidak Terbit?

Pemantauan yang telah dilakukan di Depok terhadai tiga koran, Radar Depok, Monitor Depok dan Jurnal Depok, dari tanggal 19 hingga 25 Maret 2012 memperlihatkan bahwa good governance merupakan isu yang paling banyak diangkat (40,366% dari total 109 artikel berita). Isu lingkungan hidup mengikuti setelahnya (27,522%), kemudian isu kriminalitas (23,853%), perempuan dan/atau anak (4,587%) dan terakhir isu HAM (3,669%).

Isu BBM masih cukup mendominasi seiring semakin dekatnya waktu penetapan kenaikan harga BBM pada Bulan April mendatang. Hampir selama satu minggu lalu, berita tentang Pemilihan Gubernur DKI Jakarta juga menghiasi halaman-halaman tiga koran tersebut. Berita tentang perkembangan proses peradilan pidana tentang ‘Kantor Camat Gate’ (pengadaan lahan kantor camat) yang sudah mulai memasuki meja hijau Tipikor, bersamaan dengan munculnya wacana baru dari Pemkot yang memerintahkan semua para kepala dinas untuk menandatangani sumpah anti-korupsi.

Yang menarik dari hasil pemantauan minggu lalu tersebut ialah ditemukannya indikasi perilaku media yang menyimpang. Perilaku media yang ditemukan memang tidak terjdi di lapangan, tetapi dapat dinilai dari aktivitas pelaku media dengan terbitannya. Keanehan yang dimaksud ialah pada hari tertentu, dua koran lokal di Depok tidak terbit. Yang pertama ialah Jurnal Depok, yang tidak terbit pada Hari Selasa, tanggal 20 Maret. Saya menanyakan hal itu kepada para pedagang koran di berbagai tempat, semuanya menjawab bahwa pada hari itu Jurnal Depok memang tidak mengirimkan terbitannya untuk dijual. Mereka juga tidak tahu kenapa alasannya. Ketika saya meninjau portal online Jurnal Depok (yang termasuk dalam http://www.jurnalbogor.com/), tidak ditemukan artikel-artikel berita tanggal 20 Maret 2012. Yang kedua adalah Monitor Depok, yang tidak terbit pada hari Sabtu, 24 Maret 2012. Pada Hari Kamis, 22 Maret 2012, ada pemberitahuan dari redaksi/penerbit Monitor Depok bahwa Monitor Depok memang berencana tidak terbit pada Hari Jumat sampai Sabtu (23-24 Maret 2012) sehubungan dengan respesi pernikahan Pemimpin Umum Monitor Depok.

Menurut saya, terutama pada kasus Monitor Depok, mungkin ini bisa dijadikan salah satu contoh konkret dari pengaruh kepemilikan atau kontrol terhadap perusahaan media. Seharusnya, urusan pribadi (private) tidak disangkutpautkan dengan produktivitas dan kinerja sebuah media dalam melayani masyarakat. Berbeda konteksnya dengan tanggal merah (hari libur nasional) yang memang ada ketentuan dari Pemerintah atau Negara untuk meliburkan aktivitas kerja. Jikalau ini terjadi di media-media yang lain, sungguh sangat disayangkan bahwa hanya karena kepentingan ‘si bos’, khalayak pembaca yang seharusnya menjadi ‘raja’ justru dirugikan.

Be Sociable, Share!

Tentang Penulis

Manshur Zikri (21 tahun) adalah seorang mahasiswa Program Studi Kriminologi, FISIP, Universitas Indonesia. Saat ini dia menjadi salah seorang pemantau dalam Program Pemantauan Media Berbasis Komunitas, Forum Lenteng, untuk perwakilan lokasi Kota Depok. Selain aktif berkegiatan di Forum Lenteng, Zikri juga aktif dalam kegiatan jurnalisme warga bersama komunitas akumassa Depok, SUBURBIA, yang mengkaji persoalan sosial, budaya dan media di Kota Depok dan sekitarnya.

Lihat semua tulisan

Tinggalkan Komentar

comm comm comm

www.akumassa.org adalah bagian dari program akumassa yang digagas oleh Forum Lenteng sebagai sebuah program pemberdayaan komunitas dengan berbagai media komunikasi, antara lain: video, teks, dan suara. akumassa memiliki strategi: penggerakan motivasi, memproduksi karya, pendokumentasian, berkelanjutan, pemberdayaan medium filem dan video, berbagi informasi serta merekam potensi lokal dengan cara berkolaborasi dengan komunitas dampingan.

akumassa:
Jl. Raya Lenteng Agung No.34 RT.007/RW.02
Lenteng Agung - Jakarta Selatan
DKI Jakarta 12610
Telp. (+6221) 78840373

www.akumassa.org // info@akumassa.org



© Agustus 2008 - 2012 ( akumassa )

// Forum Lenteng // Jurnal Footage // Dongeng Rangkas // Naga // Radio akumassa //