Loe, Gue End

 

Hasil amatan dua media lokal Banten, Baraya Post dan Kabar Banten dalam sepekan ini (5 Maret – 11 Maret 2012), masih menunjukan pencapaian yang sama dengan minggu lalu. Meski quota pemberitaannya sedikit agak menurun, namun isu good governance masih menjadi yang terfavorit disajikan oleh Baraya Post dan Kabar Banten. Dari 150 total berita, isu good governance menjadi yang paling dominan diberitakan dengan jumlah 85 (56,67%) artikel, kemudian disusul dengan isu lingkungan hidup 33 (22%) artikel, lalu kriminal 13 (8,67%)artikel, perempuan dan/atau anak 11 (7,33%)artikel dan yang paling terendah adalah HAM 8 (5,33%) artikel.

Sumber foto: Baraya Post

Polemik seputar rencana pemerintah yang akan menaikan harga bahan bakar minyak (BBM)pada awal bulan April ini, kerap menjadi isu yang paling hingar-bingar banyak dibicarakan baik di wilayah lokal maupun nasional dalam media pemberitan lokal Banten yakni Baraya Post dan Kabar Banten pada pekan ini. Mulai dari aksi demo yang dilakukan oleh para organisasi mahasiswa yang tergabung dalam suatu forum atau komunitas, lembaga swadaya masyarakat (LSM), dan organisasi lainnya yang menolak keras terhadap kebijakan pemerintah yang dinilai sangat tidak bijak dengan menaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Hingga , memunculkan pemberitaan opini publik dari berbagai kalangan tentang dampak yang akan ditimbulkan dari rencana pemerintah yang akan menaikan harga bahan minyak (BBM) tersebut. Semua pemberitaan itu tersaji dalam headline ataupun halaman lain.

Dari serentetan pemberitaan yang dilancarkan oleh media, dalam hal ini Baraya Post dan Kabar Banten, ada beberapa artikel yang menarik perhatian saya, yaitu seputar tentang perjuangan masyarakat Lebak Selatan (Baksel) yang menginginkan adanya pemekaran tentang pembentukan  daerah otonomi baru (DOB) Kabupaten Cilangkahan yang meliputi 10 kecamatan, yang sampai saat ini belum terealisasi. Berbagai upaya negoisasi dengan Bupati Lebak sudah dilakukan oleh masyarakat Cilangkahan. Namun sepertinya, sampai saat ini belum ada tanda-tanda inisiatif dari Bupati Lebak H.Mulyadi Jayabaya untuk melepaskan Cilangkahan sebagai kabupaten baru. Nampak, rasa keprihatinan dan kekecewaan  mulai menghinggapi masyarakat Cilangkahan. Sehingga mencuat klaim dari masyarakat Cilangkahan, bahwa Bupati Mulyadi Jayabaya adalah satu-satunya faktor terhambatnya pembentukan daerah otonomi baru (DOB) Kabupaten Cilangkahan. Hingga masyarakat Cilangkahan mendeklarasikan sebuah pernyataan yang menyatakan *saat ini, rakyat dibelahan bumi Cilangkahan menyatakan satu komando tidak akan lagi mendukung sikap politik H.Mulyadi Jayabaya selaku Bupati Lebak hingga akhir masa jabatannya, (Kabar Banten, 7 Maret 2012). Di lain pihak, pengamat politik Idi Dimyati menyesalkan sikap Jayabaya yang belum juga menyetujui Kabupaten Cilangakahan. Menurut dia, “ Jayabaya enggan menyetujui Kabupaten Cilangkahan karena ada kepentingan politik menjelang Pemilukada 2013 mendatang,”(Baraya Post, 8 Maret 2012).

Sumber foto: http://mediabisnis.wordpress.com/2011/05/08/cilangkahan-adalah-perjuangan/

“Kami akan keras mendukung calon Bupati Lebak 2013, yang betul-betul peduli dan berjuang ikhlas pemekaran Kabupaten Lebak. Lihat saja nanti tanggal mainnya, akan kemanakah dukungan rakyat Cilangkahan dialirkan.” (Kabar Banten, 7 maret 2012)

Jika saya amati dari penggalan kutipan diatas, nampak rakyat bumi Cilangkahan sangat bersikeras memperjuangkan pembentukan daerah otonomi baru (DOB) Kabupaten Cilangkahan. Bahkan, untuk merealisasikan keinginan itu, rakyat Cilangkahan rela membuka ruang politik bagi publik yang mau memperjuangkan pembentukan Kabupaten Cilangkahan, terkait dengan Pemilukada Lebak 2013 mendatang. Jika masalah ini dibiarkan berlarut-berlarut, rencana pembentukan Kabupaten Cilangkahan dikhawatirkan hanya akan dijadikan ajang eksploitasi oleh golongan-golongan tertentu sebagai komoditas politik.

Melihat bagaimana media baik Baraya Post maupun Kabar Banten melayangkan pemberitaan perihal pemekaran Kabupaten Cilangkahan, kedua media lokal Banten tersebut secara tidak langsung sudah memberikan penekanan secara emosional terhadap Jayabaya sebagai individu yang terpojokkan, baik oleh desakan-desakan warga Cilangkahan maupun oleh sejumlah pemberitaan di media, terkait pembentukan daerah otonomi baru (DOB) Kabupaten Cilangkahan. Ada sedikit yang mengganggu mata dan pikiran saya ketika membaca penggalan kutipan  diatas (Kabar Banten, 7 maret 2012), seakan memunculkan kesan media seperti sedang memberikan promosi kepada para calon bupati pada pelaksanaan Pemilukada Lebak 2013 mendatang.

Sejauh amatan yang saya lakukan pada dua media lokal Banten, yaitu Baraya Post dan Kabar Banten. Kebergantungan media terhadap isu good governance sudah tidak bisa dipungkiri lagi. Itu terlihat dari dominasi pemberitaan lebih banyak dari isu-isu lain (Ham,Kriminal,Perempuan dan/atau anak) yang relatif masih sangat sedikit. [Penulis: Firmansyah]

Be Sociable, Share!

Tentang Penulis

Pria asli Lebak, Banten kelahiran 7 Juni 1988 ini akrab disapa Aboy. Terakhir ia menamatkan pendidikannya di SMAN 3 Rangkasbitung. Selain berwirausaha, sekarang ia aktif di kegiatan jurnalisme warga akumassa.org sebagai penulis aktif dan pemantau media lokal di Lebak, Banten. Di wilayah tempat tinggalnya, ia juga aktif bersama Saidjah Forum.

Lihat semua tulisan

Tinggalkan Komentar

comm comm comm

www.akumassa.org adalah bagian dari program akumassa yang digagas oleh Forum Lenteng sebagai sebuah program pemberdayaan komunitas dengan berbagai media komunikasi, antara lain: video, teks, dan suara. akumassa memiliki strategi: penggerakan motivasi, memproduksi karya, pendokumentasian, berkelanjutan, pemberdayaan medium filem dan video, berbagi informasi serta merekam potensi lokal dengan cara berkolaborasi dengan komunitas dampingan.

akumassa:
Jl. Raya Lenteng Agung No.34 RT.007/RW.02
Lenteng Agung - Jakarta Selatan
DKI Jakarta 12610
Telp. (+6221) 78840373

www.akumassa.org // info@akumassa.org



© Agustus 2008 - 2012 ( akumassa )

// Forum Lenteng // Jurnal Footage // Dongeng Rangkas // Naga // Radio akumassa //