Becak Tradisional Terancam Becak Motor

Oleh / pada 20 Februari 2012 / di Good Governance, Yogyakarta // 5 Komentar

*Foto Becak Motor (Betor) di kutip dari web http://www.promolagi.com/potret_det.php?jid=246

*Foto Becak Motor (Betor) di kutip dari web http://www.promolagi.com/potret_det.php?jid=246

Akhir-akhir ini, Pemerintah Kota Jogjakarta sedang sibuk-sibuknya mengatasi persoalan tentang penertiban atau permasalahan makin maraknya becak motor (Betor) di wilayah Kota Jogjakarta, khususnya. Dalam sepekan ini, beberapa media cetak maupun elektronik di Kota Jogjakarta sedang sering-seringnya membahas tentang persoalan maraknya Betor tersebut. Di Kota Jogjakarta sendiri, permasalahan tentang penertiban Betor menjadi amat sedikit rumit untuk diselesaikan. Karena untuk persoalan ini, massa terbagi menjadi 2 pihak, antara yang setuju dengan tidak setujunya Betor ditertibkan di wilayah kota Jogjakarta.

Menurut info dari media cetak yang saya pantau, memang Betor ini mulai merambah atau menyebar di Kota Jogjakarta karena beberapa faktor, antara lain persoalan waktu tempuh dan perbedaan harga setoran yang semakin meningkat. Namun, di satu sisi masih banyak pengayuh becak tradisional yang bertahan untuk beroperasi, meskipun sudah makin maraknya Betor. Pihak Pemkot Jogjakarta pun sedikit kewalahan akan persoalan ini. Pihak pemkot sangat ingin mempertahankan adanya becak tradisional karena menurut pihak Pemkot Jogjakarta, becak tradisional sangat membantu dalam bidang pariwisata Kota Jogjakarta. Seharusnya, Pemkot Jogjakarta sudah harus bisa bersikap tegas dan adil dalam menangani persoalan dan memberikan jawaban akan permasalahan ini supaya masalah ini tidak berkelanjutan dan tidak menjadi sebuah perbedaan di antara pengayuh becak tradisional dengan becak motor. Memang, dalam hal ini, Pemkot Jogjakarta juga harus lebih teliti mengambil sikap supaya pihak-pihak yang bersangkutan bisa memahami dan menerima peraturan yang telah dibuat oleh pihak Pemkot Jogjakarta.

Masyarakat sadar betul bahwa kedua alat transportasi itu sama-sama mempunyai keunggulan dan kekurangannya masing-masing. Memang, becak tradisional sangat ramah akan lingkungan karena tidak menimbulkan polusi dan juga sangat identik dengan Kota Jogjakarta, namun Betor pun juga cukup membantu karena alat transport ini bisa membawa barang cukup banyak dan waktu tempuh yang hampir sama dengan naik motor atau ojek, tetapi dengan harga ongkos yang cukup murah dibandingkan ojek atau taksi.

Menurut hasil pengamatan saya, memang becak tradisional cukup banyak diminati oleh kalangan turis lokal dan mancanegara untuk di gunakan sebagai alat transportasi mengelilingi Kota Jogjakarta. Disamping harganya yang murah, becak tradisional sangat aman di gunakan karena kecepatannya yang tidak membahayakan si penumpangnya.

Sedikit masukan untuk pihak-pihak yang akan mencoba menertibkan becak motor, mungkin perlu adanya rute-rute yang hanya boleh di lalui oleh Betor sehingga keberadaan becak tradisional pun tidak terganggu atau tidak merasa tersaingi dan juga memberikan efek keselarasan akan kedua alat transportasi tersebut.  [ID]

Be Sociable, Share!

Tentang Penulis

Irvin Domi Setiawan biasa dipanggil Domi, tercatat sebagai mahasiswa tingkat akhir di Institut Seni Indonesia Yogyakarta. pemuda kelahiran 20 Maret ini, aktif di berbagai Komunitas yang ada di kota Yogyakarta, dan dia salah satu pendiri sekaligus Editor In Chief untuk Majalah Online www.areaxyz.com. sekarang ini dia juga berkontribusi dalam program pemantauan media berbasis komunitas sebagai pemantau perwakilan dari kota Yogyakarta.

Lihat semua tulisan

5 Komentar pada "Becak Tradisional Terancam Becak Motor"

  1. Lulus Gita 20 Februari 2012 pukul 23:19 · Balas

    yoi, aset pariwisata yang mungkin dieliminasi, goodluck Dom

  2. Hafiz 20 Februari 2012 pukul 23:19 · Balas

    Wah…lama-lama kayak Becak di Jakarta, yang akhirnya dibabat habis dan dijadikan rumpon (terumbu karang buatan) di kepulauan seribu waktu jaman Orde Baru.

  3. dedy santosa 22 Februari 2012 pukul 12:49 · Balas

    sebenarnya becak montor tidak lah menggangu ……..pengemudi becak tradisional kita sesama rakyat miskin nguyup rukun anggone makaryo bareng bareng .seandainya becak motor di hapus dari kotajogja…./ gimana mereka yang mempunyai becak motor/ menyakut hak daripada rakyat yang mencary nafkah dengan becak motor? saya adalah peggemudi pengemudi becak motor.seandainya becak motor ditangkap . padahal becak motor di jogja ada sekitar 500an per orang padahal kalau dipikir lebih dalam 1 pengemudi becak meng hidupi 1orang istri dan 2anak berati pemerintah tidak memper tim bakan itu ? ……….berita becak motor kemaren di surat kabar tercantum bahwa bentor tidak boleh beroprasi…di kodya..,kecuali diluar kodya .tapi mengapa kok di luar perbatasan jogja kok masi ada becak motor yang di tangkap…… ..sekian dulu tri makasih ..penguna becak motor dedy santosa…….

    • Lulus Gita 22 Februari 2012 pukul 15:25 · Balas

      Suarakan terus pendapatmu dan pendapat kawan-kawan di Jogja.

    • manshurzikri 23 Februari 2012 pukul 00:14 · Balas

      wah, menarik sekali… saya rasa suara dari mas Dedy ini perlu dipertimbangkan. Dan seharusnya media lokal di Jogjakarta men-cover hal seperti ini untuk diberitahukan ke publik… tentunya posisi netral dari media menjadi kunci utama.

      Terimakasih, mas Dedy, karena sudah memberi suaranya.. terus simak rekammedia (akumassa) untuk mengetahui perkembangan media lokal di jogja, dan terus berikan pendapatnya.

Tinggalkan Komentar

comm comm comm

www.akumassa.org adalah bagian dari program akumassa yang digagas oleh Forum Lenteng sebagai sebuah program pemberdayaan komunitas dengan berbagai media komunikasi, antara lain: video, teks, dan suara. akumassa memiliki strategi: penggerakan motivasi, memproduksi karya, pendokumentasian, berkelanjutan, pemberdayaan medium filem dan video, berbagi informasi serta merekam potensi lokal dengan cara berkolaborasi dengan komunitas dampingan.

akumassa:
Jl. Raya Lenteng Agung No.34 RT.007/RW.02
Lenteng Agung - Jakarta Selatan
DKI Jakarta 12610
Telp. (+6221) 78840373

www.akumassa.org // info@akumassa.org



© Agustus 2008 - 2012 ( akumassa )

// Forum Lenteng // Jurnal Footage // Dongeng Rangkas // Naga // Radio akumassa //