Ayam Abu-Abu, Kisah yang Kontroversial

Oleh / pada 20 Februari 2012 / di Jember, Jawa Timur, Kriminal // 9 Komentar

liputan khusus tentang ayam bau-abu (Radar Jember)

Hasil pemantauan terhadap dua media lokal (Radar Jember dan jemberpost.com) selama satu minggu berturut-turut (13-19 Februari 2012) menyimpulkan bahwa isu kriminalitas merupakan isu yang paling sering diberitakan (38% dari total berita). Menyusul kemudian isu good governance (36% dari total berita), isu perempuan dan/atau anak (25% dari total berita).

Selama satu minggu ini, praktek kejahatan sangat marak terjadi di Jember. Mulai dari pencurian kambing, perampasan kendaraan bermotor sampai pada perampokan rumah. Khusus untuk perampokan rumah, meski sering kali terjadi, sampai hari ini belum ada satu pun pelaku yang tertangkap. Aib bagi pihak kepolisian.

Terkait isu good governance, sidak anggoda DPRD terhadap angkutan umum di terminal Tawang Alun Jember senter dibicarakan. Banyaknya kecelakaan lalu lintas akhir-akhir ini memaksa anggota DPRD turun langsung memeriksa kondisi angkutan umum di Jember. Hasilnya, ada enam angkutan umum yang tak layak beroperasi.

Isu perempuan dan/atau anak, minggu ini juga ramai diberitakan. Radar Jember pada tanggal 13 Februari memulai liputan khusus tentang “ayam abu-abu”. Berita ini sangat menarik dan kontoversial bagi sebagian pihak. Bagi para pembaca cerdas, berita ini tidak ada masalah untuk dimuat dan menarik, tentunya. Namun, bagi kalangan awam, saya pikir berita ini justru menyulut keingintahuan yang semakin jauh terhadap  “ayam abu-abu”, dan tidak menutup kemungkinan malah menimbulkan keinginan untuk memakai jasa “ayam abu-abu”. Apalagi Radar Jember terkesan sangat “vulgar”—ciri fisik, tingkah polah keseharian, cara menggaet pelanggan, sampai tempat biasa mangkal pun disebutkan—memberitakannya.

Khusus untuk jemberpost.com, selama satu minggu penuh, hanya ada lima berita. Sangat tidak layak untuk disebut sebagai portal berita online. Dan saya semakin tidak yakin kalau portal berita ini punya wartawan aktif.

Be Sociable, Share!

Tentang Penulis

Dengan gegap gempita, saya dilahirkan dengan nama Muhammad Qomarudin pada tahun 1988. lalu, akhir-akhir ini lebih akrab dengan nama como. tak pernah ada penjelasan untuk itu. sekarang intim di KBT (Kelompok Belajar Tikungan) sambil kerja sampingan sebagai mahasiswa di Universitas Jember

Lihat semua tulisan

9 Komentar pada "Ayam Abu-Abu, Kisah yang Kontroversial"

  1. otty 20 Februari 2012 pukul 19:14 · Balas

    hmmm…diskredit tuh soal ayam abu2

  2. Lulus Gita 20 Februari 2012 pukul 23:05 · Balas

    ayam abu-abu apaan mar?

  3. Hafiz 20 Februari 2012 pukul 23:10 · Balas

    Mantab…! Itu jemberpost.com memang punya siapa?

  4. manshurzikri 21 Februari 2012 pukul 03:08 · Balas

    Wah, laporannya oke nih, singkat padat dan jelas. Sebagai masukan, Mas Qomar, mungkin bisa ditelusuri lagi lebih jauh tentang jemberpost.com itu, karena sebagai media online yang mengaku warta lokal, persoalan tentang aktif dan tidak aktifnya wartawan itu menjadi penting. Melalui tulisan ini bisa menjadi bahan masukan dan kritik bagi medianya sendiri. Tetap semangat memantau, Mas.! #asyek

  5. Muhammad Qomarudin 21 Februari 2012 pukul 03:22 · Balas

    ayam abu-abu itu jenjang karir. Dari ayam biru, ayam abu-abu sampai ayam kampus. stuktur redaksi jemberpost.com bisa dilihat disini http://jemberpost.com/about/ bang. untuk keterangan lebih lanjut, nanti dulu ya. belum sempat cari info.

  6. manshurzikri 21 Februari 2012 pukul 12:53 · Balas

    Mas Qomar, aku rasa ungkapan atau istilah “ayam abu-abu” yang digunakan oleh Radar Jember itu juga perlu dikritik dan dipersoalkan. Karena ketika istilah “ayam abu-abu” itu digunakan oleh media, secara tidak langsung dia me-label atau mendiskreditkan perempuan, dan tentunya ini merugikan bagi pihak perempuan itu sendiri (terutama mereka yang disebut sebagai “ayam abu-abu”). Media lokal di Jember perlu diingatkan terkait hal ini.

    Untuk yang jemberpost.com, ditunggu info lanjutannya dari Mas Qomar.

    Semoga laporan minggu depan semakin ‘tajam’ untuk mengkritik media lokal Jember yang tidak sehat dan bertanggung jawab. hehe #asyek

  7. Muhammad Qomarudin 21 Februari 2012 pukul 16:39 · Balas

    bukannya ayam abu-abu itu sudah jadi istilah umum ya? lalu, diskredit yang kamu maksudkan itu yang seperti apa? saya agak bingung..he,

    • manshurzikri 21 Februari 2012 pukul 19:39 · Balas

      mungkin umum di Jember… tapi nyatanya saya dan Lulus (dan teman-teman lain di depok) baru mendengar kata ‘ayam abu-abu’, Mas.. hehe
      maksudnya mendiskreditkan itu menjelek-jelekkan perempuan yang seharusnya tidak perlu dijelekkan. Bahkan seorang perempuan tuna-susila sekalipun, kita masyarakat (sebenarnya) tidak boleh menjelekkan atau memojokkan mereka. Begitu, Mas. Hehe

  8. bagus 27 Juni 2012 pukul 09:30 · Balas

    Kalo ayam bangkok ada yang jual gak?

Tinggalkan Komentar Untuk bagus

comm comm comm

www.akumassa.org adalah bagian dari program akumassa yang digagas oleh Forum Lenteng sebagai sebuah program pemberdayaan komunitas dengan berbagai media komunikasi, antara lain: video, teks, dan suara. akumassa memiliki strategi: penggerakan motivasi, memproduksi karya, pendokumentasian, berkelanjutan, pemberdayaan medium filem dan video, berbagi informasi serta merekam potensi lokal dengan cara berkolaborasi dengan komunitas dampingan.

akumassa:
Jl. Raya Lenteng Agung No.34 RT.007/RW.02
Lenteng Agung - Jakarta Selatan
DKI Jakarta 12610
Telp. (+6221) 78840373

www.akumassa.org // info@akumassa.org



© Agustus 2008 - 2012 ( akumassa )

// Forum Lenteng // Jurnal Footage // Dongeng Rangkas // Naga // Radio akumassa //