Menyoal Piala Adipura dan Unjuk Rasa Mahasiswa di Dinkes

Oleh / pada 19 Februari 2012 / di Ciputat, Tangerang Selatan, Lingkungan Hidup // 2 Komentar

Dalam sepekan lalu, pemberitaan (13-17 Februari 2012) kedua harian tidak saling memberitakan isu yang sama. Malahan kedua harian tersebut, baik harian Tangsel Pos maupun Suara Tangsel berbeda dalam menurunkan headline. Ini berlaku bagi setiap karakteristik pemberitaan, seperti good governance, HAM, perempuan dan/atau anak, kriminalitas dan lingkungan hidup. Namun dari itu semua, ada beberapa isu yang menjadi pemberitaan hangat di kedua harian tersebut. Isu hangat yang mengemuka ialah seputar persiapan Kota Tangerang Selatan dalam kontestasi Piala Adipura dan kericuhan unjuk rasa mahasiswa yang menuntut Dinas Kesehatan (Dinkes ) kota Tangsel dalam pelayanan kesehatan yang bermutu dan terjangkau.

aksi mempercantik jalan di Jalan Raya Siliwangi Pamulang Kota Tangerang Selatan. Courtesy: Bagian Pengelola Teknologi Informasi Pemkot Tangerang Selatan

Baik harian Tangsel Pos maupun Suara Tangsel sama-sama memberitakan tentang aktifitas Badan Lingkungan Hidup Daerah (BLHD) Kota Tangerang Selatan dalam mempercantik sisi ruas Jalan Siliwangi, Pamulang Kota, Tangsel. Harian Tangsel menulis bahwa sebanyak 48 titik pantau, yang akan dinilai oleh tim penilai, kian gencar dibenahi. Diantaranya dengan membersihkan jalan sekaligus memasang ratusan pot lengkap dengan tanaman di sepanjang jalan utama. Selain itu, harian Tangsel Pos mewartakan bahwa guna menyukseskan penilaian Piala Adipura, BLH juga membenahi pasar agar terlihat teratur dan bersih. Harian Suara Tangsel menurunkan laporannya bahwa guna menjemput penghargaan Adipura, antar instansi di Pemerintah Kota Tangerang Selatan saling bersinergi seperti Badan Lingkungan Hidup Daerah (BLHD) dan Dinas Kebersihan, Pertamanan, dan Pemakaman (DKPP) Kota Tangerang Selatan.

Sementara itu, untuk isu unjuk rasa mahasiswa ke kantor Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tangerang Selatan, kedua media sama-sama menurunkan laporannya tentang aksi unjuk rasa tersebut, yang digelar oleh puluhan mahasiswa yang tergabung dari berbagai elemen seperti Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Pamulang, Ikatan Pemuda Kranggan (IPK) dan Gerakan mahasiswa (Gema) Kosgoro. Dalam tuntutannya, pengunjuk rasa menuntut agar Pemkot Tangsel bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan bermutu dan terjangkau bagi masyarakat miskin dan juga menyoroti pelayanan Puskesmas yang dinilai rendah, seperti Puskesmas Bhakti Jaya dan Puskesmas Kranggan yang melakukan praktek pungutan liar (pungli).

Aksi unjuk rasa di Dinkes Pemkot Tangsel. Courtesy: KOMPAS.com/DIAN MAHARANI

Dari amatan saya, kedua media itu, dalam pemberitaannya, tidak mengkritisi Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang Selatan dalam menjemput penghargaan Piala Adipura, malahan hanya sekedar menginformasikan seputar aktifitas BLHD dan instansi terkait dalam menyukseskan penghargaan piala Adipura. Seharusnya, kedua media menyoroti kenapa yang dipercantik hanya sisi-sisi kota yang akan dinilai oleh tim penilai Piala Adipura, lantas tempat-tempat yang lain terkesan diabaikan. Kedua media, hemat saya, perlu bersikap kritis terhadap upaya Pemkot dalam menjemput Piala Adipura. Namun, sangat disayangkan, baik harian Tangsel Pos maupun harian Suara Tangsel, tidak mempunyai sorotan kritisnya.

Begitu juga dengan porsi pemberitaan unjuk rasa yang dilakukan oleh elemen mahasiswa terhadap tuntutan pelayanan fasilitas kesehatan. Tiba-tiba saja,  aksi unjuk rasa tersebut  mencuat ke permukaan, dan dari amatan seminggu sebelumnya, kedua harian sama sekali tidak menyoroti isu seputar pelayanan kesehatan. Sebaliknya, kedua media menyoroti isu mengenai terbengkalainya pembangunan gedung Dinas Pendapatan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (DPPKAD) Tangerang Selatan di Lapangan Cilenggang, Serpong, yang diduga terindikasi dugaan korupsi.

Kedua media, harian Tangsel Pos dan harian Suara Tangsel, dalam menyoal penghargaan Adipura dan aksi unjuk rasa mahasiswa di kantor Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tangerang Selatan tidak memberikan pandangan kritisnya terhadap kedua pemberitaan tersebut. Misalnya, dalam pemberitaan mengenai aktifitas BLHD Kota Tangsel, kedua media luput untuk “menyoal” upaya Pemkot dalam menjemput Piala Adipura dan hal yang sama juga berlaku di mana kedua media sama-sama luput dalam “menyoal” isu pelayanan kesehatan. Ironisnya, aksi unjuk rasa terkesan tiba-tiba. Padahal, dari amatan seminggu lalu, kedua media sama sekali tidak menghadirkan isu tersebut.

Terakhir, pada edisi jumat, 17 Februari 2012, harian Tangsel Pos menurunkan laporan panjangnya mengenai isu Upah Minimum Kabupaten/kota (UMK) se-Tangerang Raya, di mana tiga perusahaan industri besar di Kota Tangerang Selatan mengajukan penangguhan pemberlakuan upah sesuai Upah Minimum Kota (UMK). Dan untuk harian Suara Tangsel, koran ini tidak memberitakan  isu seputar penangguhan pemberlakuan Upah Minimum Kota (UMK) Kota Tangerang Selatan. Hemat saya, harian Tangsel Pos sudah memulai untuk mengawal isu seputar penangguhan pemberlakuan UMK ini, tinggal bagaimana di hari-hari selanjutnya harian Tangsel Pos konsisten memberitakannya. [rr]

Be Sociable, Share!

Tentang Penulis

Renal Rinoza lahir di Jakarta, 8 Maret 1984. Tahun 2004 kuliah di Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta dan lulus tahun 2010. Tahun 2007 sempat kuliah di Program E.C Ilmu Filsafat Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta. Sehari-hari bergiat Komunitas Djuanda dan aktif menulis di Jurnal Footage, akumassa.org, dan Program Pemantauan Media akumassa.org.

Lihat semua tulisan

2 Komentar pada "Menyoal Piala Adipura dan Unjuk Rasa Mahasiswa di Dinkes"

  1. manshurzikri 19 Februari 2012 pukul 22:14 · Balas

    wah, laporan yang dalam, dan kritikannya begitu ‘tajam’. Semangat, Bung Renal, semoga dengan memberikan laporan ini setiap minggu, media-media lokal di Ciputat dapat berbenah diri dan menyajikan yang baik bagi masyarakat lokalnya. #asyek

  2. sochehsatriabangsa 25 April 2012 pukul 15:47 · Balas

    yakusa….

Tinggalkan Komentar

comm comm comm

www.akumassa.org adalah bagian dari program akumassa yang digagas oleh Forum Lenteng sebagai sebuah program pemberdayaan komunitas dengan berbagai media komunikasi, antara lain: video, teks, dan suara. akumassa memiliki strategi: penggerakan motivasi, memproduksi karya, pendokumentasian, berkelanjutan, pemberdayaan medium filem dan video, berbagi informasi serta merekam potensi lokal dengan cara berkolaborasi dengan komunitas dampingan.

akumassa:
Jl. Raya Lenteng Agung No.34 RT.007/RW.02
Lenteng Agung - Jakarta Selatan
DKI Jakarta 12610
Telp. (+6221) 78840373

www.akumassa.org // info@akumassa.org



© Agustus 2008 - 2012 ( akumassa )

// Forum Lenteng // Jurnal Footage // Dongeng Rangkas // Naga // Radio akumassa //